Rabu, 28 Maret 2012

Gara-Gara Woufi :d

Kok ya kangen ngempie ya :d

*****
"Mama! Mama! Ada buku "Woufi" yang kita belum punya!" Shofie berteriak heboh di toko buku.
Saya yang sedang mencari buku latihan UAT untuk Syafiq diseret untuk melihat buku itu.
"Nggak, Dik. Kita beli buku Mas, aja. Kan, janjinya gitu."
"Tapi, ini belum punya. Tuh ...!" katanya menunjukk di tumpukan buku obral.
Wow! Buku "What a Show" salah satu buku dalam serial "Lola and Woufi Adventure". Judul lainnya, kami sudah punya, hanya itu satu-satunya yang belum punya.
Langsung, deh lihat harganya.
"Hem ... kok, mahal, ya?"
Buku lainnya saya beli saat obral banget, beberapa tahun lalu. Hanya lima ribu. Sedangkan buku ini Rp18.000,00. Mana lecek pula. Duh, serasa nggak rela untuk beli segitu, deh.
(Catatan: Rasa ini otomatis muncul, lho! Tanpa rekayasa).
Saya aduk tumpukan buku yang ada di situ. Ternyata, hanya itu buku satu-satunya.
Beli ... tidak ... beli ... tidak ...!
Selain harga, saya teringat percakapan ketika mau masuk toko buku ini. Dan ini menyangkut KONSISTENSI pada omongan sendiri. Serius amat, sih?

Ceritanya begini, saat mau masuk toko buku ini, saya rada bawel ama anak-anak.
 "Udah, nggak usah pada ikut turun dari mobil. Mama aja yang masuk. Cuma sebentar, kok. Cari buku untuk Mas, sudah!"
Pikirnya, jatah beli buku tidak sekarang. Ada bookfair, diskon gramedia, atau diskon Mizan di toko buku lain.
Tapi ya, mana mau anak-anak nunggu di mobil. Hihi ...
Dan ternyata ... buku yang dicari juga tidak ada. Hampir semuanya buku UAN. Wah, kalau buku UAN mah udah banyak di rumah. Ini nyari buku UAT, yang ada IPS, PKN, dan lainnya :d

Nemu buku bagaikan mendapat harta karun *lebay :p
Jadi ... akhirnya, buku itu masuk tas. Ternyata, diskon 25%, kok.
Bagaimana dengan konsistensi tadi?
Yah, dimaafkan, ya, Anak-anak, hihi ....
(Saya jelaskan, sih. Mumpung nemu, buku ini sudah susah dicari, harganya nggak mahal, dll. Semoga diterima :d)

Nah, sekarang, bukunya lengkap, deh :d
Buku ini bercerita tentang anak perempuan cilik bersama anjingnya yang bernama Woufi. Bilingual, teks-nya lumayan banyak untuk ukuran picture book.


Senin, 12 Desember 2011

Kalap di Book Fair


Yang bisa saya 'baca' dari foto itu :)

1. Kalap yang dimaafkan, karena dari semua buku itu, hanya dua yang harganya 10rb, yaitu "Sweet Surprises" dan "Tito dan Omelannya" jeng Fita Chakra. Lainnya 5rb! Dalam kondisi sebagian masih terplastik.

2. Uhuks! Baru sadar, yang kubeli sebagian besar buku impor, hanya 4 yang lokal di antara 16 buku! Ah, tapi ya, gpp-lah .... Bukan berarti tak cinta buku lokal, kok. Tapi cinta yang murah-murah ;))

3. Buku kesukaan Shofie ada lima. Keempat buku bisa dengan mudah ditebak, kan? Yang princess-princess tentunya. Nah, apakah buku satu lagi? (Catatan: bukan kuis, loh, ya ....)
Tapi dia suka juga dengan buku "Pirate ...". Nempel stikernya asyik sekali. Dia juga belajar gambar bunga dan kupu-kupu pakai buku "Rio the Lamb".

4. Saya agak merasa bersalah sama Syafiq, karena tidak membelikan 'buku khusus' untuk dia! Mau ambil novel grafis Mahatma Gandhi, kok ya lupa. Katanya yang membuat hati emaknya terhibur, "Nggak papa, Ma. Semua bagus-bagus, kok!" Terus dia baca Dinosaurus. Alhamdulillah, gak salah beli. Rada ragu pas mau beli, karena seri lain sudah punya. Terus mikir, ah, kalau dobel tinggal dikasih anak lain, to. Ternyata emang belum punya :d

5. Buku kesukaan saya? Pippi pasti! *selera jadul, dong! Novelnya udah punya, yang buku bentuk ini belum ada :)

Ohya, ketika ini saya posting di fb, ada komentar, kok jadi kasihan dengan para penulis yang harga bukunya diobral, gitu, yah!
Betul. Saya juga sedih kalau buku saya sudah dijual dengan harga nett. Tapi, yah, semoga saja dengan dijual murmer begitu, semakin banyak yang baca. Daripada numpuk di gudang dan dimakan tikus, hehe...

Yah, inilah risiko! Apalagi dunia penerbitan makin seperti ini, kompetitif, dan kadang terasa kejam. Bayangkan saja, buku yang beberapa minggu (gak sampai bulan, loh, ya!) nggak laku, biasanya ditarik dari display, Dan kalau kita ke toko buku, coba saja perhatikan, display begitu cepat berubah. Buku baru terus muncul, semnetara buku lama belum terjual :(
Sssstt.... Saya jual buku "Oyako no Hanashi" Rp 15rb aja, loh! Dari harga Rp36rb, hihi...
Hayuk, yang mau beli silakan inbok. Nah, loh! Promo lagi ... :))


Minggu, 11 Desember 2011

Buku Murah dan Menggurui Tetap Diminati?


Hari Sabtu, ada acara pelantikan pengusur Majelis Sekolah KB/TKIT Bina Insani, tempat Shofie sekolah. Plus acara-acara lainnya, lomba mewarnai anak, seminar parenting tentang pengenalan seks untuk anak usia dini, dan ada bazarnya :d
Mengingat di rumah banyak buku, saya pun ikutan berpartispasi dalam bazar. Cukup bayar stand Rp10 ribu :)

Pagi-pagi, berangkat ke sekolah dengan satu tas besar. Berhubung seragam majelis sekolah adalah gamis, saya nggak bisa bawa banyak barang pakai motor. Apalagi masih ngebonceng Shofie. jadilah diantar suami, karena gak bisa bawa sendiri. Sebelum berangkat, dibecandain, deh, sama suami, "Kalau acara TK, mah, yang laku sosis sunduk (sate sosis)."
Wkwkwkwk.... bener juga, sih.

Alhamdulillah, acara lancar. Walaupun stand sering ditinggal, karena pas acara pelantikan kan kita kudu naik panggung. terus pengin juga, dong, dengerin seminarnya. Stand titipin aja ama sebelah yang jual aneka bubur.
Alhamdulillah lagi, jualan lumayan laku.

Ada sedikit catatan dari si penjual buku yang bisa saya bagi. Semoga saja bermanfaat sebagai bekal menulis buku yang laku ;)) Tapi, tentu saja, setiap kondisi, tempat, lingkungan akan berbeda.
Nah, ini versi saya yang jualan di sebuah TKIT swasta standar. Maksudnya bukan sekolah swasta yang super mahal ;))

Buku yang laku, tetap saja, buku tipis dengan harga murah.
Buku seri membangun empati Al Kautsar for Kids yang saya tulis bersama Teh Tethy, harga resmi Rp 15. 000,-. Saya diskon 20%, sehingga jadi Rp12.000,- Dan masih diskon lagi, bila beli keempat serinya, menjadi Rp40.000,-. Jadi masing-masing Rp10.000,- (Ambil untung royalti aja, lah ....) Namun, apakah jadi laku? Diskon lebih itu tetep tak diminati. Kebanyakan hanya membeli satu buku. Hanya beberapa orang yang membeli dua buku, dan ketika saya perhatikan, ternyata karena putranya ada dua orang, jadi satu-satu, hehe...
Di antara buku lain, buku ini yang paling laku. (Walaupun begitu, jangan bayangkan puluhan buku, yah, hihi... Lha wong stoknya juga cuma 3 eks tiap judul :d)

Namun, ada juga seorang ibu yang tertarik dengan buku "Ensiklopedia Juz'Amma"-nya Jeng Aminah Mustari yang agak mahal. Dia melihat buku-buku lain, dan berkata, "Buku-buku itu ada.... " Membuat saya berkesimpulan, beliau memang pecinta buku.
Eh, tak lama kemudian beliau menelpon. (Beliau nggak ikut acara karena kerja). Rupanya, ada teman kantornya yang ingin beli juga. Minta disimpenin, deh. Dan, Juz'Amma pun habis. Lariss ... laris ....

Ada juga ibu-ibu yang membeli buku saya, "Curhat Ibu-Ibu" dan "Oyako no Hanashi". Dua buku yang saya obral :p, karena harga dari penerbit juga udah muraaaahhh ... ;))


Ngomongin harga, sekarang ini, begitu banyak penerbit yang ingin menerbitkan buku luks, hard cover, yang tentunya berbanding dengan harga. Bahkan, berdasarkan sebuah info, sebuah toko besar tak mau menerima buku dengan harga di bawah Rp50.000,-
Hemm ... tentu saja, itu keputusan yang tidak ngasal. Pasti pihak marketing telah mengadakan survey pasar, melakukan penelitian, dan banyak hal lain. Tapi yah, kenyataanya, masih saja ada yang suka yang murah-murah (saya juga, kok :p)

Suatu kali, saya membeli buku bagus. Buku cerita berstiker. Stikernya juga bagus, dari plastik, bukan kertas seperti biasa. Anak saya suka. Apakah alasan saya mau membelikannya? Harganya murah. Hanya Rp 18.000,- saja. namun, memang hanya empat halaman. Buku ini berseri, terdiri dari beberapa judul. Misalnya, buku seri ini dijadikan satu., hard cover, dengan harga yang berlipat, sepertinya, saya pun berpikir ulang untuk membelikannya. Saya memilih membeli yang 18rb, dan nanti akan membeli lagi seri berikutnya.

Hem, moga-moga aja, masih ada yang mau menerbitkan buku murah meriah, yak :d
Saya kok malah kepikir gini, kalau nanti semua buku mahal, jangan-jangan pembeli malah nggak mau beli pas buku itu masih baru. Tapi nunggu setahun dua tahun lagi, kalau sudah diobral. Duh, tolongggg ... *penulis menjerit, padahal yang mikir begitu penulis juga dan berdasarkan pengalaman pribadi ;))
Eh, tapi, masalah ini pernah dibantah teman. "Jangan pandang konsumen kayak 'kita-kita', dunk. Banyak, orang kaya, kok, ...." *Aamiin ... Aamiin...

Benar, manusia memang tak sama. Sangat beragam. Tentang selera buku vs keuangan hanyalah salah satunya.
Seorang teman saya ketika membeli "99 Nama dan Sifat Allah" berkata, "Saya kalau buku-buku yang begini, mau beli, Mbak. Nggak cepat rusak. Kalau ditaruh di lemari juga rapi." Dia mengomentari buku saya yang hardcover dan menunjukkan buku-buku lain milik anaknya, yang semuanya hardcover. Buku-buku tipis jarang dimilikinya, karena dia memang tak mau mengoleksi buku yang cepat sobek itu. Tentu saja saya setuju, apalagi pendapatnya membuat dia membeli buku saya hihihi ... (Eh, buku saya, mah, hard cover tapi gak mahal, yak! Promosi, teteuppp :d)

Sekarang, keluar dari masalah harga ;))
Buku yang diminati anak laki-laki, adalah buku tentang sopir antar jemput, yang ada gambar mobilnya. Buku itu habis dan masih ada beberapa anak yang pengin, tapi habis je, gimana lagi....

Dan, apakah pilihan orangtua? Rata-rata mereka memilihkan putra/putrinya, "Aku Suka Membantu". (Ssssttt .... judul pilihan editor tuh:d)
"Ini aja, deh. Buat anak perempuan, cocok," kata seorang ibu.

Nah, ini tentang buku 'menggurui'. Hohoho...
Jadi teringat diskusi judul buku serial empati ini dengan editor.
Jujur, awalnya saya kurang sreg dengan judul buku-buku serial empati.
"Tapi, kebanyakan buku anak, yang memilihkan orangtuanya, loh! Dan orangtua pasti ingin anaknya dapat sesuatu dengan membelikannya sebuah buku!"
Dan, terbuktilah kata editor saya, hehe ...

Sebenarnya, tak hanya orangtua. Kadang, selera anak pun tak terduga.
Shofie (hampir lima tahun) suka sekali dengan serial buku yang oleh kakaknya dibilang 'aneh' karena banyak 'katanya ... katanya ...."
Selain itu, itu adalah buku jadul (emang buku kakaknya yang beda tujuh tahun, sih). Dilihat dari ilustrasi, menurut saya juga kurang terang, kurang bagus, dll. Menggurui juga, iya. Tapi, teteup, itu jadi buku favorit. Padahal ya bukan princess-princessan juga.
Tadinya, saya pikir, 'ih, seleranya aneh, banget, sih!" ternyata, anak temen pun sama. Hihi... Sama-sama aneh, yak! Dan, kalau melihat di toko buku, buku lama itu pun tetap ada. Jadi, tentu saja penjualannya bagus, karena dia masih bisa bertahan di display.

Tiba-tiba, kata ini muncul di kepala. "SELERATIF", alias relatif tergantung selera.
Ya, sepertinya masalah buku kok seperti itu, yah.
Yang pasti, saya yakin, baik penulis, editor, tentunya berusaha sebaik mungkin, semaksimal mungkin untuk menghasilkan yang terbagus. Demikian juga dengan penerbit. Walaupun berorientasi bisnis, tapi idealisme seperti itu saya yakin masih ada :)

Weih...
Panjang juga nih tulisannya :d
Dan setuju atau tidak dengan yang saya tulis, sepertinya hal ini juga seleratif ;))

Selasa, 29 November 2011

Kapookk!

Macet sudah menjadi sarapan sehari-hari setiap ngantar Shofie ke sekolah. Macet ini dimulai dari pom bensin Undip sampai jalan masuk tol Tembalang, kadang lebih.

Tadi, kaget banget. Saat macet, kok, ada mobil yang berani klakson, berkali-kali, pula! Padahal, banyak pak polisi berjejer di pinggiran. Lah, kenapa nggak disemprit, ya? Eh, klakson bukan, pelanggaran, ding, yah :d

Rupanya rasa heran dan kagetku masih terus berlanjut. Begitu lepas dari daerah macet, langsung, "Wesshh...!" nyalip ngebut. Ya ampun, apa bawa orang mau melahirkan, ya? Saya sok berkhusnudhon aja, deh. Padahal, aslinya, ya, jengkel lah... Asli, kaget banget pas dia nglakson yang pertama kali ama pas disalip. Ih, padahal kalau kaget, suka grogi aja bawa motornya.

Tahukah di mana dia berhenti? Di depan kantor kecamatan. Sedang ada upacara. Dan, dia terlambat!! Gerbang sudah ditutup. Kapokkkk! Oalah ... Ngejar absen, to, Pak?? (yakin, itu yang dia kejar, bukan saking penginnya ikut upacara :p. Maaf, kali ini su'udhon yang muncul :d)

Note: enaknya juga curcol di MP :))
Maaf, kalau eneg bacanya hihi... *gak penting banget, sih :d

Kamis, 24 November 2011

Pantun

Ada tugas bikin pantun. Syafiq sudah bilang susah duluan. Kebiasaan yang susah dihilangkan, nih, walaupun sudah berusaha dengan segala cara agar dia jangan bilang "susah" sebelum mencoba.
"Aku udah mikir banget .... Tapi nggak nemu-nemu, Ma!" katanya.
Akhirnya emaknya mandu, deh. Saya suruh cari satu kata aja yang dia suka. Nemunya bola :d
Setelah itu, dia lihat rambutan yang baru aja dianterin ama tetangga ke rumah (lagi panen, dan kita sebagai tetangga yang baik, kebagian, deh).

Akhirnya,setelah utak-utik kata, jadilah pantun ala Syafiq, seperti ini:

*****
Pohon rambutan di tepi hutan
Di sana tempat bermain bola
Jangan membuat orang kesakitan
Nanti kamu tidak dapat pahala
*****

Anaknya bangga banget bisa bikin itu, hihihi....
Dibaca dengan syair, jadi inget Siti Nurbaya.

Untuk kata kesakitan dia nemu sendiri.
Kata pahala, saya memandunya. "Nah, kalau orang yang suka begitu, nggak dapat apa?"
Nemu, deh, dia kata pahala :d