Selasa, 08 Mei 2012

Arena Outbond




'Arena outbond' ini dibuat sekitar tiga tahun lalu. Di 'longkang' (ruang terbuka di dalam rumah) yang tak seberapa luas, kurang dari empat meter persegi.

Ayunan terbuat dari ban bekas, beli seharga Rp18.000,00 saja, di Barito (tempat jual/beli sepeda dan segala macamnya, berikut onderdil/aksesoris motor, mobil, baik baru atau bekas).

Gantungan hasil kreatifitas si Mas :p . Mau tahu, lingkaran biru itu dari apa? Dari ban mati (yang tidak bisa dipompa) biasanya dipakai untuk roda sepeda anak. Heran deh, kok, ya kepikir sampai ke sana :d

Nah, di manakah tali-tali itu diikatkan?
Dulu .... pernah janji sama mb Eka untuk memoto, tapi lupa. Ini ya, Mbak, fotonya :d
Terus, Mb Lily pernah menyangka, di rumah kami masih banyak pohon-pohonan. Emang nggak salah, sih. Masih banyak pohon rambutan, mangga, kuweni, alpukat. Tapi, semua itu punya tetangga :d Jadi, tali itu diikatkan di besi yang dibuat melintang seperti di foto.

Terus, di dinding ada panjat-panjatan. Sebenarnya, itu tak sengaja bikinnya. Rumah kami sudah didak, tapi belum punya tangga. Padahal, atapnya suka dipakai nyimpan-nyimpan barang yang masih berguna, tapi gunanya mungkin nanti-nanti, seperti besi sisa bangunan, dll. Setiap kali mau ke atas, musti pakai tangga, kan repot. Maka, dibikinlah panjat-panjatan ini :d

Lumayan deh, bisa nyeneng-nyenengin anak :)



Senin, 07 Mei 2012

Bonbin Mangkang




BONBIN MANGKANG

Sebenarnya, kami tidak rencana pergi ke sini.
Hari Ahad (29 April) lalu, kami ingin melihat kontes robot. Dari spanduk yang saya lihat, tertanggal 28-29 April. Ternyata, di sana salah tulis. Yang benar adalah tanggal 27-28 alias hari Jumat-Sabtu.
So, sangat ... sangat ... kecewa, deh, judulnya :p

Pulang ke rumah, justru akan membuat semakin kesal. Jadi, kami harus menggantikan dengan acara lain yang lebih menyenangkan.

Shofie usul ke Java Mall. Ketika ditanya, dia mau apa ke sana? Ternyata minta dibelikan jam tangan seperti kepunyaan temannya. Usul pun tertolak dengan sukses. Rewel, sih. Selama beberapa menit dia menangis. Tapi, tak harus dituruti, kan?

Syafiq tak punya ide. Saya juga bingung. Dalam hati sih, ingin ke Togamas. Tapi, nggak yakin anak-anak
senang.

Akhirnya, Abah mengusulkan ke kebun binatang Mangkang. Syafiq langsung setuju. Dia pernah sekali ke sana bersama teman-teman sekolahnya, tapi belum puas keliling. Terus, dia berkali-kali mengajak ke Gembiraloka (Bonbin di Yogya), tapi waktunya belum longgar. Pun, saya sebenarnya agak malas juga ke Gembiraloka, hihi .... Jadi ya, saya setuju aja deh ke kebun binatang.

Ada yang belum sepenuhnya setuju ke bonbin, tuh. Cerita kebun binatang dengan segala isinya, tetap belum bisa membuat Shofie menghentikan kerewelannya. Tapi, tetep lanjut, lah! Abah langsung menjalankan mobil masuk tol Jatingaleh, keluar Mangkang. Tak sampai setengah jam, sampailah di kebun binatang.

Kebun Binatang Mangkang, letaknya sangat strategis. Berada di pinggir jalan, tepat di depan Terminal Mangkang. Memudahkan semua orang untuk ke sana.
(Mangkang adalah perbatasan Semarang dengan Kendal) Jadi, wajar bila saat libur, di sini cukup ramai.
Biaya masuknya cukup murah. Hanya dengan uang masuk Rp5.000,00/orang (usia TK/PAUD sudah bayar) masuklah kami berempat.

Saya kaget pas masuk. Kami disambut sebuah pohon sakura. Hal ini mengingatkan saya dengan kebun binatang di Fukuoka. Setelah disentuh, ternyata hanya sakura plastik :))

Pertama, naik kuda. Si bapak kusir dengan baik hati memoto kami berempat. Bayar Rp15.000,00 sekeluarga.

Setelah itu, perahu bebek menarik minat anak-anak (ortunya juga, sih :p) Ternyata murah sekali, hanya Rp10.000,00 :d Saat berperahu ini, kami dibarengi pelikan yang sedang berenang. Anak-anak sangat tertarik. Apalagi, inilah pertama kalinya Shofie melihat burung ini. Saya jelaskan bahwa di paruh bawah ada kantung, tapi, dia nggak mudheng, karena memang tidak terlihat kantungnya. Jadi, sampai di rumah, browsing-lah, tentang kantung si burung Pelikan ini :d

Setelah itu, naik gajah, deh :d Kami semangat naik binatang besar ini, karena sebelumnya diceritain si bapak kusir, kalau mulai tanggal 1 Mei, semua tarif di kebun binatang ini akan dinaikkan. Fiuhhh... Lagi-lagi, hanya Rp5.000,00/orang. Saya nggak ikut, hihi .... Alasannya biar bisa moto :p Padahal mah, ya takut, ada rasa jijik juga, dan irit sikit-lah :))

Puas acara 'naik-naik', azan dhuhur berkumandang, shalat dulu, kemudian makan. Karena acara dadakan, maka kami tidak membawa bekal apa pun. Hanya air putih sebotol, pun ditinggal di mobil :d Warungnya sederhana semua dengan harga murmer, dan rasa yang menyesuaikan, hehe ... Hanya habis Rp30.000,00, perut sudah terisi kembali, siap melanjutkan jalan-jalan.

Kami pun berkeliling melihat hewan-hewan yang ada. Shofie udah kelihatan ceria. Lebih ceria dibandingkan saat 'naik-naik' itu. Dia berlari ke sana ke mari, melihat hewan-hewan di kandang. Memanjat pagar pembatasnya. Dan berani mengelus telinga sapi :d

Sayang, kondisi hewannya cukup memprihatinkan. Yah, tentunya susah bagi hewan-hewan itu untuk terlihat gemuk dan menggemaskan, yah. Mungkin banyak yang tak cocok dengan iklimnya.

Ada arena outbond dan waterboom juga di sini. Waterboom, jelas, kita nggak mungkin masuk ke sana. Nggak bawa baju ganti sama sekali, dan kondisi semua sedang batuk pilek. Syafiq-Shofie saya tawari untuk flying fox nggak ada yang mau. Syafiq malah ingin mencoba jembatan gantung (gantungnya di kolam). Tapi, akhirnya nggak jadi.

Cuaca puanass, membuat Syafiq ingin minum yang segar-segar. Tapi, Shofie yang tingkat batuknya paling parah di antara kami berempat, jelas tak saya izinkan minum es. Akhirnya, Syafiq sama Abahnya ke counter es krim, saya dan Shofie naik kereta. Hanya Rp3.000,00/orang. Duh, asyik banget, deh :d

Sampai sini, acara pun selesai. Siap kembali ke rumah. Shofie langsung tidur di mobil. Syafiq masih ribut kehausan. Akhirnya, kami beli es kelapa muda, mumpung Shofie masih tidur, hihi ...

Alhamdulillah, kekecewaan tidak bisa melihat kontes robot pun terobati.
Tapi, tetep dong, berharap ada lagi kontes robot di Semarang :d
Ohya, adakah yang tahu, kursus robotik di Semarang? Syukur-syukur daerah Semarang atas :d

Senin, 30 April 2012

Narasi


Seminggu-an ini, saya mencoba mempraktikkan membaca living books bersama anak-anak, khususnya Syafiq. Kadang-kadang, saya membacakannya. Tapi, sering juga Syafiq membaca sendiri. Tergantung situasi.

Seperti kali ini, Shofie sudah saya bacakan buku cerita menjelang tidur, dan sepertinya mengantuk sekali. Jadi, dia meminta saya berhenti membaca bukunya. Bahkan, dia tidak mau 'dengar' lagi suara saya membaca buku "Rumah Kecil di Rimba Besar" untuk Syafiq. (Biasanya, setelah baca picture book, saya baca buku untuk Syafiq) Akhirnya, Syafiq pun membaca sendiri tentang "Kisah Pa dan Suara di Dalam Hutan". Hasilnya, dia agak ketakutan ketika mau shalat Isya' berjamaah ke musola. Minta diantar sampai depan pintu :d

Shofie tidur ketika Syafiq shalat. So, nggak ada gangguan lagi antara saya dan Syafiq ;)). Setelah Syafiq shalat, saya meminta dia menarasikan yang dia baca. Susunan kalimat memang masih belum benar. Tapi, isinya cukup banyak yang dia ingat. Rupanya, dia ngerasa juga, tuh. Begitu selesai cerita, dengan wajah polos, dia bilang, "Daya ingat Syafiq lumayan juga, ya, Ma!" :))
Saya iyakan aja, kemudian sedikit saya ceritakan tentang single reading, yang melatih konsentrasi. Itu artinya, Syafiq sudah bisa konsentrasi dengan bagus. Semoga dia makin semangat :d

Sebenarnya mulut ini gatel ingin bilang, "Tuh, kan, musti nurut nasihat orangtua. Orangtua melarang sesuatu karena ada sebabnya, bla ... bla ...." Tapi, saya tahan dengan sekuat tenaga, hahaha .... (Masih suka aja, deh, ngomong begitu :p). Dan benar saja, yang di-shoot Syafiq beda lagi. Dia lebih menyorot adegan Kakek melecuti Pa. Menurutnya, ayah Pa terlalu kejam!

Ohya, satu lagi tentang narasi. Kali ini tentang narasi tertulis dari bacaan tema pengetahuan.

Hari Minggu lalu, kami sekeluarga pergi ke Kebun Binatang Mangkang.

Di sana, ada burung pelikan yang menarik perhatian anak-anak. Baru kali ini, mereka melihatnya.

Tadi, sementara saya membacakan cerita pengantar tidur untuk Shofie, saya menyuruh Syafiq membaca tentang Pelikan dari internet. Setelah itu, terpikir untuk mencoba menyuruhnya membuat narasi tertulis. Tapi, takut dia merasa terbebani (dan akhirnya kapok), maka saya memintanya membuat mind map ala Tony Buzan. Cara ini jauh lebih ringan daripada menulis. Insya Allah, nanti ditingkatkan pelan-pelan.

Jadinya seperti ini:





Note:
Saya sedang belajar metode Charlotte Mason, dari buku "Cinta yang Berpikir".

Minggu, 29 April 2012

Halaman Rumah Uti


Setelah Akung meninggal, Uti nggak ingin rumahnya sepi.
Maka, halaman rumah pun disulap menjadi arena bermain anak-anak.

Beberapa pohon yang tidak produktif ditebang. Ada pohon rambutan yang umurnya sudah tua (kebayang, waktu kecil, saya bertugas menyiram pohon rambutan itu :p), pohon durian yang kering setelah kena abu vulkanik, dan beberapa pohon lain.


Menggunakan dana yang ada, jadilah aneka permainan dengan barang sederhana.
Ayunan dari ban bekas. Mirip dengan ayunan milik SHofie di Semarang. Nemu di Barito, Semarang. Waktu mau bikin ayunan ini, kami juga pesan pesan ke Barito. Tapi, stok kosong. Katanya, ban-ban bekasnya dipesan untuk tempat sampah. Alhamdulillah, nemu di Magelang.
Terus ada juga lompatan-lompatan dari ban bekas juga,dan arena meniti dari pohon yang di cat.


Tak hanya cucu-cucunya yang senang, anak tetangga pun ikut merasakan tempat bermain ini. Biasanya, kalau sore ramai. Kadang, siang juga, sih. Mungkin, anak-anak di sana jarang yang kenal tidur siang :d


Bahkan, sekarang ini, dari siswa sekolah-sekolah sering ke rumah untuk 'outbond' sederhana. Setelah pensiun, Uti mengajar TK dan SD di dua tempat. jadi, mereka pun memanfaatkan rumah Bu Guru untuk aneka kegiatan :d



Beberapa
waktu lalu, saat pramuka, siswa-siswa sekolah dekat rumah juga ke sini, untuk berlatih mendirikan tenda.

Kalau mudik, anak-anak pun lebih senang.
Syafiq bisa bermain bola
dengan anak-anak tetangga, yang sebagian adalah anak teman-teman saya waktu kecil :d (berasa tua deh kalau kayak gini :p)
Shofie bisa main sama sepupunya.

Semoga, tempat ini barakah. Aamiin.




Rabu, 28 Maret 2012

Gara-Gara Woufi :d

Kok ya kangen ngempie ya :d

*****
"Mama! Mama! Ada buku "Woufi" yang kita belum punya!" Shofie berteriak heboh di toko buku.
Saya yang sedang mencari buku latihan UAT untuk Syafiq diseret untuk melihat buku itu.
"Nggak, Dik. Kita beli buku Mas, aja. Kan, janjinya gitu."
"Tapi, ini belum punya. Tuh ...!" katanya menunjukk di tumpukan buku obral.
Wow! Buku "What a Show" salah satu buku dalam serial "Lola and Woufi Adventure". Judul lainnya, kami sudah punya, hanya itu satu-satunya yang belum punya.
Langsung, deh lihat harganya.
"Hem ... kok, mahal, ya?"
Buku lainnya saya beli saat obral banget, beberapa tahun lalu. Hanya lima ribu. Sedangkan buku ini Rp18.000,00. Mana lecek pula. Duh, serasa nggak rela untuk beli segitu, deh.
(Catatan: Rasa ini otomatis muncul, lho! Tanpa rekayasa).
Saya aduk tumpukan buku yang ada di situ. Ternyata, hanya itu buku satu-satunya.
Beli ... tidak ... beli ... tidak ...!
Selain harga, saya teringat percakapan ketika mau masuk toko buku ini. Dan ini menyangkut KONSISTENSI pada omongan sendiri. Serius amat, sih?

Ceritanya begini, saat mau masuk toko buku ini, saya rada bawel ama anak-anak.
 "Udah, nggak usah pada ikut turun dari mobil. Mama aja yang masuk. Cuma sebentar, kok. Cari buku untuk Mas, sudah!"
Pikirnya, jatah beli buku tidak sekarang. Ada bookfair, diskon gramedia, atau diskon Mizan di toko buku lain.
Tapi ya, mana mau anak-anak nunggu di mobil. Hihi ...
Dan ternyata ... buku yang dicari juga tidak ada. Hampir semuanya buku UAN. Wah, kalau buku UAN mah udah banyak di rumah. Ini nyari buku UAT, yang ada IPS, PKN, dan lainnya :d

Nemu buku bagaikan mendapat harta karun *lebay :p
Jadi ... akhirnya, buku itu masuk tas. Ternyata, diskon 25%, kok.
Bagaimana dengan konsistensi tadi?
Yah, dimaafkan, ya, Anak-anak, hihi ....
(Saya jelaskan, sih. Mumpung nemu, buku ini sudah susah dicari, harganya nggak mahal, dll. Semoga diterima :d)

Nah, sekarang, bukunya lengkap, deh :d
Buku ini bercerita tentang anak perempuan cilik bersama anjingnya yang bernama Woufi. Bilingual, teks-nya lumayan banyak untuk ukuran picture book.