Rabu, 23 Mei 2012

Promo Buku: Kisah Hari Besar Umat Islam

"Kisah Hari Besar Umat Islam"


Judul ini muncul, setelah lama berpikir keras, mencari tema buku anak yang 'tidak biasa". Dan, seperti halnya mencari tema yang cukup memakan waktu, perjalanan buku ini pun cukup panjang. Sampai ganti ilustrator dan ganti editor! Terbitnya buku ini pun disalip oleh buku-buku teman lai, naskahnya masuk belakangan. Alhamdulillah, semua akan tiba pada waktunya. Dan waktu itu adalah yang terbaik menurutnya.

Awalnya, ada seorang editor buku anak, yang woro-woro di milis penulis bacaan anak. Mengabarkan bahwa penerbitnya membutuhkan buku-buku Islam. Sebelumnya, saya pun sudah dibisiki oleh Mbak Dian Kristiani, yang sudah sering menerbitkan di sana. Tapi, saya bingung menentukan tema. "Tema apa, sih, yang belum ada?" Sepertinya, semua tema sudah ada. Mulai kisah nabi, rukun islam, rukun iman, dll.

Akhirnya terpikirlah untuk menceriterakan kisah-kisah dalam hari besar yang diperingati oleh umat Islam.
Berisi cerita-cerita tentang latar belakang hari libur nasional di Indonesia. Dan inilah yang utama. Tentu saja, tak ada anjuran untuk memperingatinya, namun lebih menekankan agar anak-anak tahu sejarah hari-hari besar itu :)

Waktu itu, sedang musimnya bilingual. Untuk menambah poin, saya pun mencoba untuk bilingual. Tapi, tentu saja bukan saya yang menulis. Fiuh, bahasa inggris sih, little-little i can -lah. Apalagi, saya itu orangnya 'pemalu'. Saya bakalan malu, kalau nanti ada yang bilang bahasa Inggrisnya ngawur :p

Selain itu, saya juga berpikir tentang penjualan buku, agar lebih mendunia *gaya banget, sih! Saya ingin agar buku ini juga sampai ke Jepang, sepertinya halnya buku Asmaul Husna. Akhirnya, saya coba menghubungi Bu Hanik, yang (waduh, saya kurang tahu jabatan beliau. Yang pasti orang penting di International Islamic School, yang diadakan di masjid An Noor, Fukuoka, Jepang) Saya tahu, Bu Hanik sangat sibuk, tapi, tak apa kan, mencoba? Bila Bu Hanik menjadi pengalih bahasanya, kan, semakin terbuka peluang buku ini bisa terbang ke Jepang :d
Alhamdulillah responnya cukup baik, tapi ... "Nggak bisa diburu-buru," katanya.
Okelah. Saya juga enggak bisa nulis cepet, kok :p

Alhamdulillah, Bu Hanik tak sekedar translate. kami sering berdiskusi tentang content cerita. Saya sudah berusaha menggunakan sumber shahih saat menulis buku ini. Al Quran, Tafsir Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyyah, serta sumber online yang terpercaya. Bu Hanik juga sangat hati-hati masalah ini. Tak ingin ada kesalahan fatal, yang bukannya membawa pada amal jariyah, malah dosa yang tak habis. Selain itu, kami juga diskusi penggunaan kalimat, agar lebih jelas, efektif, dan bisa ditangkap anak dengan mudah.

Selesai translate, Bu Hanik, meminta proof dari suaminya juga. Ckckckck ... daripada malu setelah jadi buku, mending berproses lama, deh.
Saya pun menunggu, dengan ... rada tak sabar juga, hahaha ...*peace Bu Hanik, soalnya waktu itu udah ditagih oleh editor :d


'
Alhamdulillah, naskah selesai. Tapi, tak hanya sampai di situ, kami 'mengurusi naskah ini. Saat memulai ilustrasi, kami pun diajak diskusi. Mulai menentukan ilustrator, koreksi gambar, dan lainnya. Sekali lagi, saya dan Bu Hanik berdiskusi masalah gambar, terutama tentang tokoh-tokoh dalam cerita ini. Ide dari Bu hanik juga, ketika menggambarkan orang yang jelas ada namanya, misalnya Abu Bakar ra, dan lainnya, hanya tampak belakang. Atau bila wanita (misalnya Halimah ra.), maka mukanya pun disamarkan, misalnya jilbabnya tertiup angin sehingga menutup muka. Saya bersyukur sekali, Pak Ferry, sang ilustrator cukup pengertian dan sabar dengan kerewelan kami.

Setelah semua beres, Mbak editor, mengirimkan naskah jadi, untuk kami proof. Fiuhh, sebuah kerjaan yang menyenangkan. Revisi saya, sih, tak seberapa. Tapi, rupanya Bu Hanik masih menemukan banyak kejanggalan. Bahkan, sampai meminta editor mengirim naskah dalam bentuk word, agar bisa diperbaiki lagi. (naskah yang kami proof, dalam bentuk PDF). Silakan dibayangkan sendiri, hasilnya, setelah melalui proses panjang tersebut :d

Akhirnya, selesai sudah proses itu. Kami tinggal menunggu terbitnya, yang ternyata juga tidak sebentar. Tapi, saya tidak begitu memikirkannya, karena sedang menggarap naskah lain, yang lumayan molor-molor, karena kesibukan yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan, yaitu menjadi guru anak seharian, setelah bertahun-tahun, saya menitipkannya di sekolah :d

Suatu hari, saya kaget menerima sms dari Mba editor, yang mengabarkan naskah sudah terbit. Alhamdulillahhh .... Beberapa hari setelah sms itu, saya inginnn sekali ke Gramedia. Mencari buku sale :p (haiyah, ini penulis pikiran e sale melulu. Ntar kalau buku sendiri di sale, pringas-pringis, deh :d) Tak disangka, saya menemukan buku saya sudah mejeng dengan cantiknya di rak buku. Harganya pun normal (membuat optimis akan laris terjual) Rp65.000,00 saja, kok! Kertas glossy semuanya dan tebal. Langsung deh, geret suami. Minta doi moto pakai BB-nya. Jeprat-jepret segala posisi, pakai dipindah2 segala :d

Sebenarnya, masih ada yang membuat saya dag dig dug juga. Proses dari naskah sampai terbitnya buku ini hampir dua tahun. Selama itu, tentunya banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan. Selain itu, beberapa bulan lalu, saya mengenal istilah living books, yang saya pelajari dari metode belajar Charlotte Mason. Sebuah pelajaran baru buat saya, tentang dunia perbukuan.
Semua itu memunculkan rasa khawatir, "Duh, bagaimana kalau buku ini jelek?"
Alhamdulillah, begitu melihat bukunya sore ini, saya tetap jatuh cinta padanya :))
Semoga bukan berdasarkan kenarsisan semata :p

Terima kasih untuk Bu Hanik, yang sudah membuat buku ini lebih bagus dari isi, terima kasih buat Pak Ferry, yang ilustrasinya tidak biasa. Banyak teman-teman yang memuji kavernya. Tentu saja mb Dewi juga mb Kiki, yang telah dengan sabar mengulik naskah ini sehingga menjadi lebih bagus, dan sabar juga kerewelan kami :)

Nah, konsisten dengan profesi sebagai penulis jualan, maka, saya pun membuka penjualan buku ini plus tandatangan, xixi .... Dan, bagi teman-teman yang di Jepang, boleh pesan juga. Baik yang di Fukuoka atau wilayah lain.  Harga 1000 yen, Insya Allah, 300 yen akan disumbangkan untuk masjid An Noor, Fukuoka. Silakan hubungi Ibu Hanik Utami Morise di Fukuoka. Atau pesan ke saya juga bisa. Nanti saya sampaikan ke beliau.

Teman-teman yang biasa belanja online, insya Allah tersedia di HalamanMoeka.  Silakan belanja di sana, dengan cara pesan dulu. Diskon lumayan, lho :) Dan ... lebih senang lagi, bila teman-teman membelinya di toko buku Gramedia terdekat. Bisa meningkatkan rating buku saya, kalau banyak yang terjual di toko. Display pun akan bertahan lama :)

Oke, deh. Saya ucapkan makasih, kepada teman-teman yang sudah bersedia baca ocehan nano-nano, namun tetap berintikan satu kata, PROMOSI! :d

Minggu, 13 Mei 2012

Talkshow Parenting: Membangun Karakter Anak dengan Cinta yang Berpikir

Assalamu'alaikum,

Teman-teman di Semarang dan sekitarnya ....
Kumpul-kumpul hari Minggu ini, yuk, tanggal 20 Mei 2012, di Resto Kaliwang nan asri. Kita mendengarkan sharing dari mbak Ellen Kristi, penulis buku "Cinta yang Berpikir".

Nggak hanya untuk orangtua, lho. Para calon bapak/ibu, pun perlu. Agar setelah punya putra/putri nanti, sudah punya ilmu


Lebih lengkapnya, silakan perbesar foto berikut, ya :)



Jumat, 11 Mei 2012

Talkshow parenting: Seni Membangun Karakter Anak dengan Cinta yang Berpikir

Start:     May 20, '12 10:00a
Modal awal menjadi orang tua yang baik,
adalah cinta yang mendalam pada anaknya.
Tetapi, cinta saja ternyata tidak cukup.
Kita perlu “Cinta yang Berpikir”,
cinta yang dilengkapi pengetahuan 



Bersama:

Ellen Kristi, M. Hum.
● Penulis buku “Cinta yang Berpikir”
● Dosen FIB Undip
● Praktisi pendidikan rumah
● Pendiri Charlotte Mason Indonesia


Ikutilah,

Talkshow parenting:

Seni Membangun Karakter Anak
dengan Cinta yang Berpikir

Waktu:

Minggu, 20 Mei 2012

Pukul 10.00—14.00

Biaya:

Rp25.000,00/peserta


Tempat:

Resto Kaliwang
Jl. Mulawarman Raya No 49A
Tembalang, Semarang


Fasilitas:

Snack, lunch box,
doorprize



Selasa, 08 Mei 2012

Arena Outbond




'Arena outbond' ini dibuat sekitar tiga tahun lalu. Di 'longkang' (ruang terbuka di dalam rumah) yang tak seberapa luas, kurang dari empat meter persegi.

Ayunan terbuat dari ban bekas, beli seharga Rp18.000,00 saja, di Barito (tempat jual/beli sepeda dan segala macamnya, berikut onderdil/aksesoris motor, mobil, baik baru atau bekas).

Gantungan hasil kreatifitas si Mas :p . Mau tahu, lingkaran biru itu dari apa? Dari ban mati (yang tidak bisa dipompa) biasanya dipakai untuk roda sepeda anak. Heran deh, kok, ya kepikir sampai ke sana :d

Nah, di manakah tali-tali itu diikatkan?
Dulu .... pernah janji sama mb Eka untuk memoto, tapi lupa. Ini ya, Mbak, fotonya :d
Terus, Mb Lily pernah menyangka, di rumah kami masih banyak pohon-pohonan. Emang nggak salah, sih. Masih banyak pohon rambutan, mangga, kuweni, alpukat. Tapi, semua itu punya tetangga :d Jadi, tali itu diikatkan di besi yang dibuat melintang seperti di foto.

Terus, di dinding ada panjat-panjatan. Sebenarnya, itu tak sengaja bikinnya. Rumah kami sudah didak, tapi belum punya tangga. Padahal, atapnya suka dipakai nyimpan-nyimpan barang yang masih berguna, tapi gunanya mungkin nanti-nanti, seperti besi sisa bangunan, dll. Setiap kali mau ke atas, musti pakai tangga, kan repot. Maka, dibikinlah panjat-panjatan ini :d

Lumayan deh, bisa nyeneng-nyenengin anak :)



Senin, 07 Mei 2012

Bonbin Mangkang




BONBIN MANGKANG

Sebenarnya, kami tidak rencana pergi ke sini.
Hari Ahad (29 April) lalu, kami ingin melihat kontes robot. Dari spanduk yang saya lihat, tertanggal 28-29 April. Ternyata, di sana salah tulis. Yang benar adalah tanggal 27-28 alias hari Jumat-Sabtu.
So, sangat ... sangat ... kecewa, deh, judulnya :p

Pulang ke rumah, justru akan membuat semakin kesal. Jadi, kami harus menggantikan dengan acara lain yang lebih menyenangkan.

Shofie usul ke Java Mall. Ketika ditanya, dia mau apa ke sana? Ternyata minta dibelikan jam tangan seperti kepunyaan temannya. Usul pun tertolak dengan sukses. Rewel, sih. Selama beberapa menit dia menangis. Tapi, tak harus dituruti, kan?

Syafiq tak punya ide. Saya juga bingung. Dalam hati sih, ingin ke Togamas. Tapi, nggak yakin anak-anak
senang.

Akhirnya, Abah mengusulkan ke kebun binatang Mangkang. Syafiq langsung setuju. Dia pernah sekali ke sana bersama teman-teman sekolahnya, tapi belum puas keliling. Terus, dia berkali-kali mengajak ke Gembiraloka (Bonbin di Yogya), tapi waktunya belum longgar. Pun, saya sebenarnya agak malas juga ke Gembiraloka, hihi .... Jadi ya, saya setuju aja deh ke kebun binatang.

Ada yang belum sepenuhnya setuju ke bonbin, tuh. Cerita kebun binatang dengan segala isinya, tetap belum bisa membuat Shofie menghentikan kerewelannya. Tapi, tetep lanjut, lah! Abah langsung menjalankan mobil masuk tol Jatingaleh, keluar Mangkang. Tak sampai setengah jam, sampailah di kebun binatang.

Kebun Binatang Mangkang, letaknya sangat strategis. Berada di pinggir jalan, tepat di depan Terminal Mangkang. Memudahkan semua orang untuk ke sana.
(Mangkang adalah perbatasan Semarang dengan Kendal) Jadi, wajar bila saat libur, di sini cukup ramai.
Biaya masuknya cukup murah. Hanya dengan uang masuk Rp5.000,00/orang (usia TK/PAUD sudah bayar) masuklah kami berempat.

Saya kaget pas masuk. Kami disambut sebuah pohon sakura. Hal ini mengingatkan saya dengan kebun binatang di Fukuoka. Setelah disentuh, ternyata hanya sakura plastik :))

Pertama, naik kuda. Si bapak kusir dengan baik hati memoto kami berempat. Bayar Rp15.000,00 sekeluarga.

Setelah itu, perahu bebek menarik minat anak-anak (ortunya juga, sih :p) Ternyata murah sekali, hanya Rp10.000,00 :d Saat berperahu ini, kami dibarengi pelikan yang sedang berenang. Anak-anak sangat tertarik. Apalagi, inilah pertama kalinya Shofie melihat burung ini. Saya jelaskan bahwa di paruh bawah ada kantung, tapi, dia nggak mudheng, karena memang tidak terlihat kantungnya. Jadi, sampai di rumah, browsing-lah, tentang kantung si burung Pelikan ini :d

Setelah itu, naik gajah, deh :d Kami semangat naik binatang besar ini, karena sebelumnya diceritain si bapak kusir, kalau mulai tanggal 1 Mei, semua tarif di kebun binatang ini akan dinaikkan. Fiuhhh... Lagi-lagi, hanya Rp5.000,00/orang. Saya nggak ikut, hihi .... Alasannya biar bisa moto :p Padahal mah, ya takut, ada rasa jijik juga, dan irit sikit-lah :))

Puas acara 'naik-naik', azan dhuhur berkumandang, shalat dulu, kemudian makan. Karena acara dadakan, maka kami tidak membawa bekal apa pun. Hanya air putih sebotol, pun ditinggal di mobil :d Warungnya sederhana semua dengan harga murmer, dan rasa yang menyesuaikan, hehe ... Hanya habis Rp30.000,00, perut sudah terisi kembali, siap melanjutkan jalan-jalan.

Kami pun berkeliling melihat hewan-hewan yang ada. Shofie udah kelihatan ceria. Lebih ceria dibandingkan saat 'naik-naik' itu. Dia berlari ke sana ke mari, melihat hewan-hewan di kandang. Memanjat pagar pembatasnya. Dan berani mengelus telinga sapi :d

Sayang, kondisi hewannya cukup memprihatinkan. Yah, tentunya susah bagi hewan-hewan itu untuk terlihat gemuk dan menggemaskan, yah. Mungkin banyak yang tak cocok dengan iklimnya.

Ada arena outbond dan waterboom juga di sini. Waterboom, jelas, kita nggak mungkin masuk ke sana. Nggak bawa baju ganti sama sekali, dan kondisi semua sedang batuk pilek. Syafiq-Shofie saya tawari untuk flying fox nggak ada yang mau. Syafiq malah ingin mencoba jembatan gantung (gantungnya di kolam). Tapi, akhirnya nggak jadi.

Cuaca puanass, membuat Syafiq ingin minum yang segar-segar. Tapi, Shofie yang tingkat batuknya paling parah di antara kami berempat, jelas tak saya izinkan minum es. Akhirnya, Syafiq sama Abahnya ke counter es krim, saya dan Shofie naik kereta. Hanya Rp3.000,00/orang. Duh, asyik banget, deh :d

Sampai sini, acara pun selesai. Siap kembali ke rumah. Shofie langsung tidur di mobil. Syafiq masih ribut kehausan. Akhirnya, kami beli es kelapa muda, mumpung Shofie masih tidur, hihi ...

Alhamdulillah, kekecewaan tidak bisa melihat kontes robot pun terobati.
Tapi, tetep dong, berharap ada lagi kontes robot di Semarang :d
Ohya, adakah yang tahu, kursus robotik di Semarang? Syukur-syukur daerah Semarang atas :d

Senin, 30 April 2012

Narasi


Seminggu-an ini, saya mencoba mempraktikkan membaca living books bersama anak-anak, khususnya Syafiq. Kadang-kadang, saya membacakannya. Tapi, sering juga Syafiq membaca sendiri. Tergantung situasi.

Seperti kali ini, Shofie sudah saya bacakan buku cerita menjelang tidur, dan sepertinya mengantuk sekali. Jadi, dia meminta saya berhenti membaca bukunya. Bahkan, dia tidak mau 'dengar' lagi suara saya membaca buku "Rumah Kecil di Rimba Besar" untuk Syafiq. (Biasanya, setelah baca picture book, saya baca buku untuk Syafiq) Akhirnya, Syafiq pun membaca sendiri tentang "Kisah Pa dan Suara di Dalam Hutan". Hasilnya, dia agak ketakutan ketika mau shalat Isya' berjamaah ke musola. Minta diantar sampai depan pintu :d

Shofie tidur ketika Syafiq shalat. So, nggak ada gangguan lagi antara saya dan Syafiq ;)). Setelah Syafiq shalat, saya meminta dia menarasikan yang dia baca. Susunan kalimat memang masih belum benar. Tapi, isinya cukup banyak yang dia ingat. Rupanya, dia ngerasa juga, tuh. Begitu selesai cerita, dengan wajah polos, dia bilang, "Daya ingat Syafiq lumayan juga, ya, Ma!" :))
Saya iyakan aja, kemudian sedikit saya ceritakan tentang single reading, yang melatih konsentrasi. Itu artinya, Syafiq sudah bisa konsentrasi dengan bagus. Semoga dia makin semangat :d

Sebenarnya mulut ini gatel ingin bilang, "Tuh, kan, musti nurut nasihat orangtua. Orangtua melarang sesuatu karena ada sebabnya, bla ... bla ...." Tapi, saya tahan dengan sekuat tenaga, hahaha .... (Masih suka aja, deh, ngomong begitu :p). Dan benar saja, yang di-shoot Syafiq beda lagi. Dia lebih menyorot adegan Kakek melecuti Pa. Menurutnya, ayah Pa terlalu kejam!

Ohya, satu lagi tentang narasi. Kali ini tentang narasi tertulis dari bacaan tema pengetahuan.

Hari Minggu lalu, kami sekeluarga pergi ke Kebun Binatang Mangkang.

Di sana, ada burung pelikan yang menarik perhatian anak-anak. Baru kali ini, mereka melihatnya.

Tadi, sementara saya membacakan cerita pengantar tidur untuk Shofie, saya menyuruh Syafiq membaca tentang Pelikan dari internet. Setelah itu, terpikir untuk mencoba menyuruhnya membuat narasi tertulis. Tapi, takut dia merasa terbebani (dan akhirnya kapok), maka saya memintanya membuat mind map ala Tony Buzan. Cara ini jauh lebih ringan daripada menulis. Insya Allah, nanti ditingkatkan pelan-pelan.

Jadinya seperti ini:





Note:
Saya sedang belajar metode Charlotte Mason, dari buku "Cinta yang Berpikir".

Minggu, 29 April 2012

Halaman Rumah Uti


Setelah Akung meninggal, Uti nggak ingin rumahnya sepi.
Maka, halaman rumah pun disulap menjadi arena bermain anak-anak.

Beberapa pohon yang tidak produktif ditebang. Ada pohon rambutan yang umurnya sudah tua (kebayang, waktu kecil, saya bertugas menyiram pohon rambutan itu :p), pohon durian yang kering setelah kena abu vulkanik, dan beberapa pohon lain.


Menggunakan dana yang ada, jadilah aneka permainan dengan barang sederhana.
Ayunan dari ban bekas. Mirip dengan ayunan milik SHofie di Semarang. Nemu di Barito, Semarang. Waktu mau bikin ayunan ini, kami juga pesan pesan ke Barito. Tapi, stok kosong. Katanya, ban-ban bekasnya dipesan untuk tempat sampah. Alhamdulillah, nemu di Magelang.
Terus ada juga lompatan-lompatan dari ban bekas juga,dan arena meniti dari pohon yang di cat.


Tak hanya cucu-cucunya yang senang, anak tetangga pun ikut merasakan tempat bermain ini. Biasanya, kalau sore ramai. Kadang, siang juga, sih. Mungkin, anak-anak di sana jarang yang kenal tidur siang :d


Bahkan, sekarang ini, dari siswa sekolah-sekolah sering ke rumah untuk 'outbond' sederhana. Setelah pensiun, Uti mengajar TK dan SD di dua tempat. jadi, mereka pun memanfaatkan rumah Bu Guru untuk aneka kegiatan :d



Beberapa
waktu lalu, saat pramuka, siswa-siswa sekolah dekat rumah juga ke sini, untuk berlatih mendirikan tenda.

Kalau mudik, anak-anak pun lebih senang.
Syafiq bisa bermain bola
dengan anak-anak tetangga, yang sebagian adalah anak teman-teman saya waktu kecil :d (berasa tua deh kalau kayak gini :p)
Shofie bisa main sama sepupunya.

Semoga, tempat ini barakah. Aamiin.




Rabu, 28 Maret 2012

Gara-Gara Woufi :d

Kok ya kangen ngempie ya :d

*****
"Mama! Mama! Ada buku "Woufi" yang kita belum punya!" Shofie berteriak heboh di toko buku.
Saya yang sedang mencari buku latihan UAT untuk Syafiq diseret untuk melihat buku itu.
"Nggak, Dik. Kita beli buku Mas, aja. Kan, janjinya gitu."
"Tapi, ini belum punya. Tuh ...!" katanya menunjukk di tumpukan buku obral.
Wow! Buku "What a Show" salah satu buku dalam serial "Lola and Woufi Adventure". Judul lainnya, kami sudah punya, hanya itu satu-satunya yang belum punya.
Langsung, deh lihat harganya.
"Hem ... kok, mahal, ya?"
Buku lainnya saya beli saat obral banget, beberapa tahun lalu. Hanya lima ribu. Sedangkan buku ini Rp18.000,00. Mana lecek pula. Duh, serasa nggak rela untuk beli segitu, deh.
(Catatan: Rasa ini otomatis muncul, lho! Tanpa rekayasa).
Saya aduk tumpukan buku yang ada di situ. Ternyata, hanya itu buku satu-satunya.
Beli ... tidak ... beli ... tidak ...!
Selain harga, saya teringat percakapan ketika mau masuk toko buku ini. Dan ini menyangkut KONSISTENSI pada omongan sendiri. Serius amat, sih?

Ceritanya begini, saat mau masuk toko buku ini, saya rada bawel ama anak-anak.
 "Udah, nggak usah pada ikut turun dari mobil. Mama aja yang masuk. Cuma sebentar, kok. Cari buku untuk Mas, sudah!"
Pikirnya, jatah beli buku tidak sekarang. Ada bookfair, diskon gramedia, atau diskon Mizan di toko buku lain.
Tapi ya, mana mau anak-anak nunggu di mobil. Hihi ...
Dan ternyata ... buku yang dicari juga tidak ada. Hampir semuanya buku UAN. Wah, kalau buku UAN mah udah banyak di rumah. Ini nyari buku UAT, yang ada IPS, PKN, dan lainnya :d

Nemu buku bagaikan mendapat harta karun *lebay :p
Jadi ... akhirnya, buku itu masuk tas. Ternyata, diskon 25%, kok.
Bagaimana dengan konsistensi tadi?
Yah, dimaafkan, ya, Anak-anak, hihi ....
(Saya jelaskan, sih. Mumpung nemu, buku ini sudah susah dicari, harganya nggak mahal, dll. Semoga diterima :d)

Nah, sekarang, bukunya lengkap, deh :d
Buku ini bercerita tentang anak perempuan cilik bersama anjingnya yang bernama Woufi. Bilingual, teks-nya lumayan banyak untuk ukuran picture book.


Senin, 12 Desember 2011

Kalap di Book Fair


Yang bisa saya 'baca' dari foto itu :)

1. Kalap yang dimaafkan, karena dari semua buku itu, hanya dua yang harganya 10rb, yaitu "Sweet Surprises" dan "Tito dan Omelannya" jeng Fita Chakra. Lainnya 5rb! Dalam kondisi sebagian masih terplastik.

2. Uhuks! Baru sadar, yang kubeli sebagian besar buku impor, hanya 4 yang lokal di antara 16 buku! Ah, tapi ya, gpp-lah .... Bukan berarti tak cinta buku lokal, kok. Tapi cinta yang murah-murah ;))

3. Buku kesukaan Shofie ada lima. Keempat buku bisa dengan mudah ditebak, kan? Yang princess-princess tentunya. Nah, apakah buku satu lagi? (Catatan: bukan kuis, loh, ya ....)
Tapi dia suka juga dengan buku "Pirate ...". Nempel stikernya asyik sekali. Dia juga belajar gambar bunga dan kupu-kupu pakai buku "Rio the Lamb".

4. Saya agak merasa bersalah sama Syafiq, karena tidak membelikan 'buku khusus' untuk dia! Mau ambil novel grafis Mahatma Gandhi, kok ya lupa. Katanya yang membuat hati emaknya terhibur, "Nggak papa, Ma. Semua bagus-bagus, kok!" Terus dia baca Dinosaurus. Alhamdulillah, gak salah beli. Rada ragu pas mau beli, karena seri lain sudah punya. Terus mikir, ah, kalau dobel tinggal dikasih anak lain, to. Ternyata emang belum punya :d

5. Buku kesukaan saya? Pippi pasti! *selera jadul, dong! Novelnya udah punya, yang buku bentuk ini belum ada :)

Ohya, ketika ini saya posting di fb, ada komentar, kok jadi kasihan dengan para penulis yang harga bukunya diobral, gitu, yah!
Betul. Saya juga sedih kalau buku saya sudah dijual dengan harga nett. Tapi, yah, semoga saja dengan dijual murmer begitu, semakin banyak yang baca. Daripada numpuk di gudang dan dimakan tikus, hehe...

Yah, inilah risiko! Apalagi dunia penerbitan makin seperti ini, kompetitif, dan kadang terasa kejam. Bayangkan saja, buku yang beberapa minggu (gak sampai bulan, loh, ya!) nggak laku, biasanya ditarik dari display, Dan kalau kita ke toko buku, coba saja perhatikan, display begitu cepat berubah. Buku baru terus muncul, semnetara buku lama belum terjual :(
Sssstt.... Saya jual buku "Oyako no Hanashi" Rp 15rb aja, loh! Dari harga Rp36rb, hihi...
Hayuk, yang mau beli silakan inbok. Nah, loh! Promo lagi ... :))


Minggu, 11 Desember 2011

Buku Murah dan Menggurui Tetap Diminati?


Hari Sabtu, ada acara pelantikan pengusur Majelis Sekolah KB/TKIT Bina Insani, tempat Shofie sekolah. Plus acara-acara lainnya, lomba mewarnai anak, seminar parenting tentang pengenalan seks untuk anak usia dini, dan ada bazarnya :d
Mengingat di rumah banyak buku, saya pun ikutan berpartispasi dalam bazar. Cukup bayar stand Rp10 ribu :)

Pagi-pagi, berangkat ke sekolah dengan satu tas besar. Berhubung seragam majelis sekolah adalah gamis, saya nggak bisa bawa banyak barang pakai motor. Apalagi masih ngebonceng Shofie. jadilah diantar suami, karena gak bisa bawa sendiri. Sebelum berangkat, dibecandain, deh, sama suami, "Kalau acara TK, mah, yang laku sosis sunduk (sate sosis)."
Wkwkwkwk.... bener juga, sih.

Alhamdulillah, acara lancar. Walaupun stand sering ditinggal, karena pas acara pelantikan kan kita kudu naik panggung. terus pengin juga, dong, dengerin seminarnya. Stand titipin aja ama sebelah yang jual aneka bubur.
Alhamdulillah lagi, jualan lumayan laku.

Ada sedikit catatan dari si penjual buku yang bisa saya bagi. Semoga saja bermanfaat sebagai bekal menulis buku yang laku ;)) Tapi, tentu saja, setiap kondisi, tempat, lingkungan akan berbeda.
Nah, ini versi saya yang jualan di sebuah TKIT swasta standar. Maksudnya bukan sekolah swasta yang super mahal ;))

Buku yang laku, tetap saja, buku tipis dengan harga murah.
Buku seri membangun empati Al Kautsar for Kids yang saya tulis bersama Teh Tethy, harga resmi Rp 15. 000,-. Saya diskon 20%, sehingga jadi Rp12.000,- Dan masih diskon lagi, bila beli keempat serinya, menjadi Rp40.000,-. Jadi masing-masing Rp10.000,- (Ambil untung royalti aja, lah ....) Namun, apakah jadi laku? Diskon lebih itu tetep tak diminati. Kebanyakan hanya membeli satu buku. Hanya beberapa orang yang membeli dua buku, dan ketika saya perhatikan, ternyata karena putranya ada dua orang, jadi satu-satu, hehe...
Di antara buku lain, buku ini yang paling laku. (Walaupun begitu, jangan bayangkan puluhan buku, yah, hihi... Lha wong stoknya juga cuma 3 eks tiap judul :d)

Namun, ada juga seorang ibu yang tertarik dengan buku "Ensiklopedia Juz'Amma"-nya Jeng Aminah Mustari yang agak mahal. Dia melihat buku-buku lain, dan berkata, "Buku-buku itu ada.... " Membuat saya berkesimpulan, beliau memang pecinta buku.
Eh, tak lama kemudian beliau menelpon. (Beliau nggak ikut acara karena kerja). Rupanya, ada teman kantornya yang ingin beli juga. Minta disimpenin, deh. Dan, Juz'Amma pun habis. Lariss ... laris ....

Ada juga ibu-ibu yang membeli buku saya, "Curhat Ibu-Ibu" dan "Oyako no Hanashi". Dua buku yang saya obral :p, karena harga dari penerbit juga udah muraaaahhh ... ;))


Ngomongin harga, sekarang ini, begitu banyak penerbit yang ingin menerbitkan buku luks, hard cover, yang tentunya berbanding dengan harga. Bahkan, berdasarkan sebuah info, sebuah toko besar tak mau menerima buku dengan harga di bawah Rp50.000,-
Hemm ... tentu saja, itu keputusan yang tidak ngasal. Pasti pihak marketing telah mengadakan survey pasar, melakukan penelitian, dan banyak hal lain. Tapi yah, kenyataanya, masih saja ada yang suka yang murah-murah (saya juga, kok :p)

Suatu kali, saya membeli buku bagus. Buku cerita berstiker. Stikernya juga bagus, dari plastik, bukan kertas seperti biasa. Anak saya suka. Apakah alasan saya mau membelikannya? Harganya murah. Hanya Rp 18.000,- saja. namun, memang hanya empat halaman. Buku ini berseri, terdiri dari beberapa judul. Misalnya, buku seri ini dijadikan satu., hard cover, dengan harga yang berlipat, sepertinya, saya pun berpikir ulang untuk membelikannya. Saya memilih membeli yang 18rb, dan nanti akan membeli lagi seri berikutnya.

Hem, moga-moga aja, masih ada yang mau menerbitkan buku murah meriah, yak :d
Saya kok malah kepikir gini, kalau nanti semua buku mahal, jangan-jangan pembeli malah nggak mau beli pas buku itu masih baru. Tapi nunggu setahun dua tahun lagi, kalau sudah diobral. Duh, tolongggg ... *penulis menjerit, padahal yang mikir begitu penulis juga dan berdasarkan pengalaman pribadi ;))
Eh, tapi, masalah ini pernah dibantah teman. "Jangan pandang konsumen kayak 'kita-kita', dunk. Banyak, orang kaya, kok, ...." *Aamiin ... Aamiin...

Benar, manusia memang tak sama. Sangat beragam. Tentang selera buku vs keuangan hanyalah salah satunya.
Seorang teman saya ketika membeli "99 Nama dan Sifat Allah" berkata, "Saya kalau buku-buku yang begini, mau beli, Mbak. Nggak cepat rusak. Kalau ditaruh di lemari juga rapi." Dia mengomentari buku saya yang hardcover dan menunjukkan buku-buku lain milik anaknya, yang semuanya hardcover. Buku-buku tipis jarang dimilikinya, karena dia memang tak mau mengoleksi buku yang cepat sobek itu. Tentu saja saya setuju, apalagi pendapatnya membuat dia membeli buku saya hihihi ... (Eh, buku saya, mah, hard cover tapi gak mahal, yak! Promosi, teteuppp :d)

Sekarang, keluar dari masalah harga ;))
Buku yang diminati anak laki-laki, adalah buku tentang sopir antar jemput, yang ada gambar mobilnya. Buku itu habis dan masih ada beberapa anak yang pengin, tapi habis je, gimana lagi....

Dan, apakah pilihan orangtua? Rata-rata mereka memilihkan putra/putrinya, "Aku Suka Membantu". (Ssssttt .... judul pilihan editor tuh:d)
"Ini aja, deh. Buat anak perempuan, cocok," kata seorang ibu.

Nah, ini tentang buku 'menggurui'. Hohoho...
Jadi teringat diskusi judul buku serial empati ini dengan editor.
Jujur, awalnya saya kurang sreg dengan judul buku-buku serial empati.
"Tapi, kebanyakan buku anak, yang memilihkan orangtuanya, loh! Dan orangtua pasti ingin anaknya dapat sesuatu dengan membelikannya sebuah buku!"
Dan, terbuktilah kata editor saya, hehe ...

Sebenarnya, tak hanya orangtua. Kadang, selera anak pun tak terduga.
Shofie (hampir lima tahun) suka sekali dengan serial buku yang oleh kakaknya dibilang 'aneh' karena banyak 'katanya ... katanya ...."
Selain itu, itu adalah buku jadul (emang buku kakaknya yang beda tujuh tahun, sih). Dilihat dari ilustrasi, menurut saya juga kurang terang, kurang bagus, dll. Menggurui juga, iya. Tapi, teteup, itu jadi buku favorit. Padahal ya bukan princess-princessan juga.
Tadinya, saya pikir, 'ih, seleranya aneh, banget, sih!" ternyata, anak temen pun sama. Hihi... Sama-sama aneh, yak! Dan, kalau melihat di toko buku, buku lama itu pun tetap ada. Jadi, tentu saja penjualannya bagus, karena dia masih bisa bertahan di display.

Tiba-tiba, kata ini muncul di kepala. "SELERATIF", alias relatif tergantung selera.
Ya, sepertinya masalah buku kok seperti itu, yah.
Yang pasti, saya yakin, baik penulis, editor, tentunya berusaha sebaik mungkin, semaksimal mungkin untuk menghasilkan yang terbagus. Demikian juga dengan penerbit. Walaupun berorientasi bisnis, tapi idealisme seperti itu saya yakin masih ada :)

Weih...
Panjang juga nih tulisannya :d
Dan setuju atau tidak dengan yang saya tulis, sepertinya hal ini juga seleratif ;))

Selasa, 29 November 2011

Kapookk!

Macet sudah menjadi sarapan sehari-hari setiap ngantar Shofie ke sekolah. Macet ini dimulai dari pom bensin Undip sampai jalan masuk tol Tembalang, kadang lebih.

Tadi, kaget banget. Saat macet, kok, ada mobil yang berani klakson, berkali-kali, pula! Padahal, banyak pak polisi berjejer di pinggiran. Lah, kenapa nggak disemprit, ya? Eh, klakson bukan, pelanggaran, ding, yah :d

Rupanya rasa heran dan kagetku masih terus berlanjut. Begitu lepas dari daerah macet, langsung, "Wesshh...!" nyalip ngebut. Ya ampun, apa bawa orang mau melahirkan, ya? Saya sok berkhusnudhon aja, deh. Padahal, aslinya, ya, jengkel lah... Asli, kaget banget pas dia nglakson yang pertama kali ama pas disalip. Ih, padahal kalau kaget, suka grogi aja bawa motornya.

Tahukah di mana dia berhenti? Di depan kantor kecamatan. Sedang ada upacara. Dan, dia terlambat!! Gerbang sudah ditutup. Kapokkkk! Oalah ... Ngejar absen, to, Pak?? (yakin, itu yang dia kejar, bukan saking penginnya ikut upacara :p. Maaf, kali ini su'udhon yang muncul :d)

Note: enaknya juga curcol di MP :))
Maaf, kalau eneg bacanya hihi... *gak penting banget, sih :d

Kamis, 24 November 2011

Pantun

Ada tugas bikin pantun. Syafiq sudah bilang susah duluan. Kebiasaan yang susah dihilangkan, nih, walaupun sudah berusaha dengan segala cara agar dia jangan bilang "susah" sebelum mencoba.
"Aku udah mikir banget .... Tapi nggak nemu-nemu, Ma!" katanya.
Akhirnya emaknya mandu, deh. Saya suruh cari satu kata aja yang dia suka. Nemunya bola :d
Setelah itu, dia lihat rambutan yang baru aja dianterin ama tetangga ke rumah (lagi panen, dan kita sebagai tetangga yang baik, kebagian, deh).

Akhirnya,setelah utak-utik kata, jadilah pantun ala Syafiq, seperti ini:

*****
Pohon rambutan di tepi hutan
Di sana tempat bermain bola
Jangan membuat orang kesakitan
Nanti kamu tidak dapat pahala
*****

Anaknya bangga banget bisa bikin itu, hihihi....
Dibaca dengan syair, jadi inget Siti Nurbaya.

Untuk kata kesakitan dia nemu sendiri.
Kata pahala, saya memandunya. "Nah, kalau orang yang suka begitu, nggak dapat apa?"
Nemu, deh, dia kata pahala :d

Minggu, 13 November 2011

Kalimat Majemuk

Semalam nemeni Syafiq belajar bahasa Indonesia tentang kalimat majemuk setara.
Contoh kalimatnya adalah "Ibu memasak di dapur dan adik bermain di kamar".
Proteslah Syafiq, "Kalimatnya salah, tuh."
"Eh? Bener, dong, Mas. Pakai 'dan', kan?"
Seting otak emaknya adalah kata penghubung.
"Harusnya adik membantu lah....".
Saya: meringis
Tapi, dasar ibu-ibu nggak mau kalah, "Tapi kalau Mama sih asyik-asyik aja kayak gitu. Daripada adik mengganggu memasak?"
Syafiq: bibir dimajuin :p

(Setelah agak lama baru tersadar, kurang mendidik juga, yah, kalimat pembelaan saya, hihi... Begitulah spontanitas. Semoga nggak dipikir dalem ama Syafiq :p)

Jumat, 11 November 2011

Perang Saudara

Wahhh.... Lama sekali nggak posting di multiply :)

Mulai lagi, ahhh...

Cerita Syafiq-Shofie, nih ;))

*****

Shofie, hafal huruf dan beberapa kata sederhana, tapi belum bisa baca.
"Mas, eM A eM A, apa?" (sok memberi soal masnya)
"Mama..." Jawabnya males-malesan :p
"A Be A Ha...."
"Abah...."
... "eR - O - eR- I" (tokoh cerita di buku anak)
"Rori...."
....
....
....
Lama-lama, bosen deh si Syafiq.
"Sudah tho, Dikkkkk!!"

"Mas, tolong, dong. Kan cuma ngomong satu kata.."
Mama berada di kubu Shofie :p

Lanjut, beberapa kata lagi. Syafiq masih mau menjawab. Hingga...
"eS- Ha- O - eF- I - E, apa?"
"Jelek!!"

"Huaaa...!! Bruk! Brak!"
Perang saudara dimulai.

Pecut: Kesalahan pada emaknya. Ya, wajar toh, nek Syafiq malas. Demi ketenangan, saya memaksa dia untuk meladeni adiknya terus :p

Selasa, 11 Oktober 2011

(Terbit) Majalah Anak Islam "Irfan".


Alhamdulillah...
Benar-benar tak menyangka, saya akan menjadi kontributor tetap sebuah majalah anak. Nama saya bakalan muncul di setiap majalah ini terbit. Ups! Norak binti narsis, ya? Emang... Tapi jujur, seperti itu yang saya rasakan.

Saya teringat, mba Dina pernah posting tentang majalah anak islam, bernama Irfan yang akan dirintisnya. Dalam postingan itu, dikatakan bahwa menerima tulisan dari luar. Saya lupa, waktu itu sedang 'sibuk' apa. Selain tak punya stok, saya juga sedang miskin ide. Jadi, saya tak bisa ikut meramaikan mengirimkan naskah ke sana. Tapi, penginnn sekali ikut ngebantu-bantu, apalah... apa aja... Pokoknya bisa jadi amal jariyah. Akhirnya, saya ketik sebuah kalimat di kolom reply. Intinya, bila perlu bantuan, saya sangat bersedia. Tapi, membaca ulang yang saya tulis, muncul rasa nggak enak. "Emang siapa kamu? Sok-sokan menawarkan diri membantu? Kalau mau kirim naskah ya kirim ajah. Kan nanti diseleksi. Belum tentu juga naskahmu lolos!!"
Wahh..merona dah muka ini. Akhirnya, reply-an itu tak jadi saya kirim. Delete!

Beberapa minggu berselang, saya menerima email dari mba Dina. beliau meminta saya menulis untuk rubrik komik, yang isinya seperti buku mba Dina, "Komik Quran."

Oalala...mimpi apa semalam?
Langsung saya iyakan! Walaupun, saya belum pernah menulis komik, tapi toh punya sensei perkomikan, yang dengan sukarela, dia pasti membantu. Siapa lagi kalau bukan Teh Tethy? Hihi.. Saya juga dikirimi contoh komik dari mba Dina sebagai panduan. Alhamdulillah, jadi banyak belajar.

Majalah ini sekarang belum ada di tangan, jadi saya belum bisa melihat wujud aslinya (masih dalam proses kirim), Tapi, saya merasa buku ini sangat bagus. Mempunyai warna sendiri sebagai majalah Islam. Insya Allah, akan banyak disukai. Amin..

Saya sudah mengintip di sini. Ilustrasinya keren-keren.

Teman-teman, bila ingin berlangganan, klik di sini, ya!
Sementara ini memang masih on line. Insya Allah, sedang diupayakan, agar majalah ini bisa didistribusi ke seluruh Indonesia, melalui toko-toko buku atau semaca Indomaret dan lainnya.

Ohya, ada juga cerita proses pembuatan majalah ini, bisa dilihat di blog mba Dina.

Terakhir, minta doanya, agar buku ini disukai anak-anak muslim Indonesia, mencerahkan, bermanfaat, juga menghibur. Aamiin.

Rabu, 05 Oktober 2011

[Shofie] Beli Gerobak


"Mama, Bu Anjar punya buku ini, lho!" kata Shofie sambil menunjuk buku "Asmaul Husna".
"Iya. Mama kan, ngasih ke sekolah."
"Oh, kalau ibunya Nishfa dikasih, nggak? Ibunya Ammah, ibunya...." (Ngabsen temen-temennya)
"Errr... Mama jualan aja kali, ya."
"Iya! Iya!" Semangat. "Nanti beli gerobak dulu, ya!"

Emangnya tukang sayur!

Btw, Mama mengabaikan ladang amal memberi buku ke teman-temannya Shofie, dan memilih untuk jualan ajah hihi...Amal sih amal, tapi...tapi...