Senin, 12 Desember 2011

Kalap di Book Fair


Yang bisa saya 'baca' dari foto itu :)

1. Kalap yang dimaafkan, karena dari semua buku itu, hanya dua yang harganya 10rb, yaitu "Sweet Surprises" dan "Tito dan Omelannya" jeng Fita Chakra. Lainnya 5rb! Dalam kondisi sebagian masih terplastik.

2. Uhuks! Baru sadar, yang kubeli sebagian besar buku impor, hanya 4 yang lokal di antara 16 buku! Ah, tapi ya, gpp-lah .... Bukan berarti tak cinta buku lokal, kok. Tapi cinta yang murah-murah ;))

3. Buku kesukaan Shofie ada lima. Keempat buku bisa dengan mudah ditebak, kan? Yang princess-princess tentunya. Nah, apakah buku satu lagi? (Catatan: bukan kuis, loh, ya ....)
Tapi dia suka juga dengan buku "Pirate ...". Nempel stikernya asyik sekali. Dia juga belajar gambar bunga dan kupu-kupu pakai buku "Rio the Lamb".

4. Saya agak merasa bersalah sama Syafiq, karena tidak membelikan 'buku khusus' untuk dia! Mau ambil novel grafis Mahatma Gandhi, kok ya lupa. Katanya yang membuat hati emaknya terhibur, "Nggak papa, Ma. Semua bagus-bagus, kok!" Terus dia baca Dinosaurus. Alhamdulillah, gak salah beli. Rada ragu pas mau beli, karena seri lain sudah punya. Terus mikir, ah, kalau dobel tinggal dikasih anak lain, to. Ternyata emang belum punya :d

5. Buku kesukaan saya? Pippi pasti! *selera jadul, dong! Novelnya udah punya, yang buku bentuk ini belum ada :)

Ohya, ketika ini saya posting di fb, ada komentar, kok jadi kasihan dengan para penulis yang harga bukunya diobral, gitu, yah!
Betul. Saya juga sedih kalau buku saya sudah dijual dengan harga nett. Tapi, yah, semoga saja dengan dijual murmer begitu, semakin banyak yang baca. Daripada numpuk di gudang dan dimakan tikus, hehe...

Yah, inilah risiko! Apalagi dunia penerbitan makin seperti ini, kompetitif, dan kadang terasa kejam. Bayangkan saja, buku yang beberapa minggu (gak sampai bulan, loh, ya!) nggak laku, biasanya ditarik dari display, Dan kalau kita ke toko buku, coba saja perhatikan, display begitu cepat berubah. Buku baru terus muncul, semnetara buku lama belum terjual :(
Sssstt.... Saya jual buku "Oyako no Hanashi" Rp 15rb aja, loh! Dari harga Rp36rb, hihi...
Hayuk, yang mau beli silakan inbok. Nah, loh! Promo lagi ... :))


Minggu, 11 Desember 2011

Buku Murah dan Menggurui Tetap Diminati?


Hari Sabtu, ada acara pelantikan pengusur Majelis Sekolah KB/TKIT Bina Insani, tempat Shofie sekolah. Plus acara-acara lainnya, lomba mewarnai anak, seminar parenting tentang pengenalan seks untuk anak usia dini, dan ada bazarnya :d
Mengingat di rumah banyak buku, saya pun ikutan berpartispasi dalam bazar. Cukup bayar stand Rp10 ribu :)

Pagi-pagi, berangkat ke sekolah dengan satu tas besar. Berhubung seragam majelis sekolah adalah gamis, saya nggak bisa bawa banyak barang pakai motor. Apalagi masih ngebonceng Shofie. jadilah diantar suami, karena gak bisa bawa sendiri. Sebelum berangkat, dibecandain, deh, sama suami, "Kalau acara TK, mah, yang laku sosis sunduk (sate sosis)."
Wkwkwkwk.... bener juga, sih.

Alhamdulillah, acara lancar. Walaupun stand sering ditinggal, karena pas acara pelantikan kan kita kudu naik panggung. terus pengin juga, dong, dengerin seminarnya. Stand titipin aja ama sebelah yang jual aneka bubur.
Alhamdulillah lagi, jualan lumayan laku.

Ada sedikit catatan dari si penjual buku yang bisa saya bagi. Semoga saja bermanfaat sebagai bekal menulis buku yang laku ;)) Tapi, tentu saja, setiap kondisi, tempat, lingkungan akan berbeda.
Nah, ini versi saya yang jualan di sebuah TKIT swasta standar. Maksudnya bukan sekolah swasta yang super mahal ;))

Buku yang laku, tetap saja, buku tipis dengan harga murah.
Buku seri membangun empati Al Kautsar for Kids yang saya tulis bersama Teh Tethy, harga resmi Rp 15. 000,-. Saya diskon 20%, sehingga jadi Rp12.000,- Dan masih diskon lagi, bila beli keempat serinya, menjadi Rp40.000,-. Jadi masing-masing Rp10.000,- (Ambil untung royalti aja, lah ....) Namun, apakah jadi laku? Diskon lebih itu tetep tak diminati. Kebanyakan hanya membeli satu buku. Hanya beberapa orang yang membeli dua buku, dan ketika saya perhatikan, ternyata karena putranya ada dua orang, jadi satu-satu, hehe...
Di antara buku lain, buku ini yang paling laku. (Walaupun begitu, jangan bayangkan puluhan buku, yah, hihi... Lha wong stoknya juga cuma 3 eks tiap judul :d)

Namun, ada juga seorang ibu yang tertarik dengan buku "Ensiklopedia Juz'Amma"-nya Jeng Aminah Mustari yang agak mahal. Dia melihat buku-buku lain, dan berkata, "Buku-buku itu ada.... " Membuat saya berkesimpulan, beliau memang pecinta buku.
Eh, tak lama kemudian beliau menelpon. (Beliau nggak ikut acara karena kerja). Rupanya, ada teman kantornya yang ingin beli juga. Minta disimpenin, deh. Dan, Juz'Amma pun habis. Lariss ... laris ....

Ada juga ibu-ibu yang membeli buku saya, "Curhat Ibu-Ibu" dan "Oyako no Hanashi". Dua buku yang saya obral :p, karena harga dari penerbit juga udah muraaaahhh ... ;))


Ngomongin harga, sekarang ini, begitu banyak penerbit yang ingin menerbitkan buku luks, hard cover, yang tentunya berbanding dengan harga. Bahkan, berdasarkan sebuah info, sebuah toko besar tak mau menerima buku dengan harga di bawah Rp50.000,-
Hemm ... tentu saja, itu keputusan yang tidak ngasal. Pasti pihak marketing telah mengadakan survey pasar, melakukan penelitian, dan banyak hal lain. Tapi yah, kenyataanya, masih saja ada yang suka yang murah-murah (saya juga, kok :p)

Suatu kali, saya membeli buku bagus. Buku cerita berstiker. Stikernya juga bagus, dari plastik, bukan kertas seperti biasa. Anak saya suka. Apakah alasan saya mau membelikannya? Harganya murah. Hanya Rp 18.000,- saja. namun, memang hanya empat halaman. Buku ini berseri, terdiri dari beberapa judul. Misalnya, buku seri ini dijadikan satu., hard cover, dengan harga yang berlipat, sepertinya, saya pun berpikir ulang untuk membelikannya. Saya memilih membeli yang 18rb, dan nanti akan membeli lagi seri berikutnya.

Hem, moga-moga aja, masih ada yang mau menerbitkan buku murah meriah, yak :d
Saya kok malah kepikir gini, kalau nanti semua buku mahal, jangan-jangan pembeli malah nggak mau beli pas buku itu masih baru. Tapi nunggu setahun dua tahun lagi, kalau sudah diobral. Duh, tolongggg ... *penulis menjerit, padahal yang mikir begitu penulis juga dan berdasarkan pengalaman pribadi ;))
Eh, tapi, masalah ini pernah dibantah teman. "Jangan pandang konsumen kayak 'kita-kita', dunk. Banyak, orang kaya, kok, ...." *Aamiin ... Aamiin...

Benar, manusia memang tak sama. Sangat beragam. Tentang selera buku vs keuangan hanyalah salah satunya.
Seorang teman saya ketika membeli "99 Nama dan Sifat Allah" berkata, "Saya kalau buku-buku yang begini, mau beli, Mbak. Nggak cepat rusak. Kalau ditaruh di lemari juga rapi." Dia mengomentari buku saya yang hardcover dan menunjukkan buku-buku lain milik anaknya, yang semuanya hardcover. Buku-buku tipis jarang dimilikinya, karena dia memang tak mau mengoleksi buku yang cepat sobek itu. Tentu saja saya setuju, apalagi pendapatnya membuat dia membeli buku saya hihihi ... (Eh, buku saya, mah, hard cover tapi gak mahal, yak! Promosi, teteuppp :d)

Sekarang, keluar dari masalah harga ;))
Buku yang diminati anak laki-laki, adalah buku tentang sopir antar jemput, yang ada gambar mobilnya. Buku itu habis dan masih ada beberapa anak yang pengin, tapi habis je, gimana lagi....

Dan, apakah pilihan orangtua? Rata-rata mereka memilihkan putra/putrinya, "Aku Suka Membantu". (Ssssttt .... judul pilihan editor tuh:d)
"Ini aja, deh. Buat anak perempuan, cocok," kata seorang ibu.

Nah, ini tentang buku 'menggurui'. Hohoho...
Jadi teringat diskusi judul buku serial empati ini dengan editor.
Jujur, awalnya saya kurang sreg dengan judul buku-buku serial empati.
"Tapi, kebanyakan buku anak, yang memilihkan orangtuanya, loh! Dan orangtua pasti ingin anaknya dapat sesuatu dengan membelikannya sebuah buku!"
Dan, terbuktilah kata editor saya, hehe ...

Sebenarnya, tak hanya orangtua. Kadang, selera anak pun tak terduga.
Shofie (hampir lima tahun) suka sekali dengan serial buku yang oleh kakaknya dibilang 'aneh' karena banyak 'katanya ... katanya ...."
Selain itu, itu adalah buku jadul (emang buku kakaknya yang beda tujuh tahun, sih). Dilihat dari ilustrasi, menurut saya juga kurang terang, kurang bagus, dll. Menggurui juga, iya. Tapi, teteup, itu jadi buku favorit. Padahal ya bukan princess-princessan juga.
Tadinya, saya pikir, 'ih, seleranya aneh, banget, sih!" ternyata, anak temen pun sama. Hihi... Sama-sama aneh, yak! Dan, kalau melihat di toko buku, buku lama itu pun tetap ada. Jadi, tentu saja penjualannya bagus, karena dia masih bisa bertahan di display.

Tiba-tiba, kata ini muncul di kepala. "SELERATIF", alias relatif tergantung selera.
Ya, sepertinya masalah buku kok seperti itu, yah.
Yang pasti, saya yakin, baik penulis, editor, tentunya berusaha sebaik mungkin, semaksimal mungkin untuk menghasilkan yang terbagus. Demikian juga dengan penerbit. Walaupun berorientasi bisnis, tapi idealisme seperti itu saya yakin masih ada :)

Weih...
Panjang juga nih tulisannya :d
Dan setuju atau tidak dengan yang saya tulis, sepertinya hal ini juga seleratif ;))

Selasa, 29 November 2011

Kapookk!

Macet sudah menjadi sarapan sehari-hari setiap ngantar Shofie ke sekolah. Macet ini dimulai dari pom bensin Undip sampai jalan masuk tol Tembalang, kadang lebih.

Tadi, kaget banget. Saat macet, kok, ada mobil yang berani klakson, berkali-kali, pula! Padahal, banyak pak polisi berjejer di pinggiran. Lah, kenapa nggak disemprit, ya? Eh, klakson bukan, pelanggaran, ding, yah :d

Rupanya rasa heran dan kagetku masih terus berlanjut. Begitu lepas dari daerah macet, langsung, "Wesshh...!" nyalip ngebut. Ya ampun, apa bawa orang mau melahirkan, ya? Saya sok berkhusnudhon aja, deh. Padahal, aslinya, ya, jengkel lah... Asli, kaget banget pas dia nglakson yang pertama kali ama pas disalip. Ih, padahal kalau kaget, suka grogi aja bawa motornya.

Tahukah di mana dia berhenti? Di depan kantor kecamatan. Sedang ada upacara. Dan, dia terlambat!! Gerbang sudah ditutup. Kapokkkk! Oalah ... Ngejar absen, to, Pak?? (yakin, itu yang dia kejar, bukan saking penginnya ikut upacara :p. Maaf, kali ini su'udhon yang muncul :d)

Note: enaknya juga curcol di MP :))
Maaf, kalau eneg bacanya hihi... *gak penting banget, sih :d

Kamis, 24 November 2011

Pantun

Ada tugas bikin pantun. Syafiq sudah bilang susah duluan. Kebiasaan yang susah dihilangkan, nih, walaupun sudah berusaha dengan segala cara agar dia jangan bilang "susah" sebelum mencoba.
"Aku udah mikir banget .... Tapi nggak nemu-nemu, Ma!" katanya.
Akhirnya emaknya mandu, deh. Saya suruh cari satu kata aja yang dia suka. Nemunya bola :d
Setelah itu, dia lihat rambutan yang baru aja dianterin ama tetangga ke rumah (lagi panen, dan kita sebagai tetangga yang baik, kebagian, deh).

Akhirnya,setelah utak-utik kata, jadilah pantun ala Syafiq, seperti ini:

*****
Pohon rambutan di tepi hutan
Di sana tempat bermain bola
Jangan membuat orang kesakitan
Nanti kamu tidak dapat pahala
*****

Anaknya bangga banget bisa bikin itu, hihihi....
Dibaca dengan syair, jadi inget Siti Nurbaya.

Untuk kata kesakitan dia nemu sendiri.
Kata pahala, saya memandunya. "Nah, kalau orang yang suka begitu, nggak dapat apa?"
Nemu, deh, dia kata pahala :d

Minggu, 13 November 2011

Kalimat Majemuk

Semalam nemeni Syafiq belajar bahasa Indonesia tentang kalimat majemuk setara.
Contoh kalimatnya adalah "Ibu memasak di dapur dan adik bermain di kamar".
Proteslah Syafiq, "Kalimatnya salah, tuh."
"Eh? Bener, dong, Mas. Pakai 'dan', kan?"
Seting otak emaknya adalah kata penghubung.
"Harusnya adik membantu lah....".
Saya: meringis
Tapi, dasar ibu-ibu nggak mau kalah, "Tapi kalau Mama sih asyik-asyik aja kayak gitu. Daripada adik mengganggu memasak?"
Syafiq: bibir dimajuin :p

(Setelah agak lama baru tersadar, kurang mendidik juga, yah, kalimat pembelaan saya, hihi... Begitulah spontanitas. Semoga nggak dipikir dalem ama Syafiq :p)

Jumat, 11 November 2011

Perang Saudara

Wahhh.... Lama sekali nggak posting di multiply :)

Mulai lagi, ahhh...

Cerita Syafiq-Shofie, nih ;))

*****

Shofie, hafal huruf dan beberapa kata sederhana, tapi belum bisa baca.
"Mas, eM A eM A, apa?" (sok memberi soal masnya)
"Mama..." Jawabnya males-malesan :p
"A Be A Ha...."
"Abah...."
... "eR - O - eR- I" (tokoh cerita di buku anak)
"Rori...."
....
....
....
Lama-lama, bosen deh si Syafiq.
"Sudah tho, Dikkkkk!!"

"Mas, tolong, dong. Kan cuma ngomong satu kata.."
Mama berada di kubu Shofie :p

Lanjut, beberapa kata lagi. Syafiq masih mau menjawab. Hingga...
"eS- Ha- O - eF- I - E, apa?"
"Jelek!!"

"Huaaa...!! Bruk! Brak!"
Perang saudara dimulai.

Pecut: Kesalahan pada emaknya. Ya, wajar toh, nek Syafiq malas. Demi ketenangan, saya memaksa dia untuk meladeni adiknya terus :p

Selasa, 11 Oktober 2011

(Terbit) Majalah Anak Islam "Irfan".


Alhamdulillah...
Benar-benar tak menyangka, saya akan menjadi kontributor tetap sebuah majalah anak. Nama saya bakalan muncul di setiap majalah ini terbit. Ups! Norak binti narsis, ya? Emang... Tapi jujur, seperti itu yang saya rasakan.

Saya teringat, mba Dina pernah posting tentang majalah anak islam, bernama Irfan yang akan dirintisnya. Dalam postingan itu, dikatakan bahwa menerima tulisan dari luar. Saya lupa, waktu itu sedang 'sibuk' apa. Selain tak punya stok, saya juga sedang miskin ide. Jadi, saya tak bisa ikut meramaikan mengirimkan naskah ke sana. Tapi, penginnn sekali ikut ngebantu-bantu, apalah... apa aja... Pokoknya bisa jadi amal jariyah. Akhirnya, saya ketik sebuah kalimat di kolom reply. Intinya, bila perlu bantuan, saya sangat bersedia. Tapi, membaca ulang yang saya tulis, muncul rasa nggak enak. "Emang siapa kamu? Sok-sokan menawarkan diri membantu? Kalau mau kirim naskah ya kirim ajah. Kan nanti diseleksi. Belum tentu juga naskahmu lolos!!"
Wahh..merona dah muka ini. Akhirnya, reply-an itu tak jadi saya kirim. Delete!

Beberapa minggu berselang, saya menerima email dari mba Dina. beliau meminta saya menulis untuk rubrik komik, yang isinya seperti buku mba Dina, "Komik Quran."

Oalala...mimpi apa semalam?
Langsung saya iyakan! Walaupun, saya belum pernah menulis komik, tapi toh punya sensei perkomikan, yang dengan sukarela, dia pasti membantu. Siapa lagi kalau bukan Teh Tethy? Hihi.. Saya juga dikirimi contoh komik dari mba Dina sebagai panduan. Alhamdulillah, jadi banyak belajar.

Majalah ini sekarang belum ada di tangan, jadi saya belum bisa melihat wujud aslinya (masih dalam proses kirim), Tapi, saya merasa buku ini sangat bagus. Mempunyai warna sendiri sebagai majalah Islam. Insya Allah, akan banyak disukai. Amin..

Saya sudah mengintip di sini. Ilustrasinya keren-keren.

Teman-teman, bila ingin berlangganan, klik di sini, ya!
Sementara ini memang masih on line. Insya Allah, sedang diupayakan, agar majalah ini bisa didistribusi ke seluruh Indonesia, melalui toko-toko buku atau semaca Indomaret dan lainnya.

Ohya, ada juga cerita proses pembuatan majalah ini, bisa dilihat di blog mba Dina.

Terakhir, minta doanya, agar buku ini disukai anak-anak muslim Indonesia, mencerahkan, bermanfaat, juga menghibur. Aamiin.

Rabu, 05 Oktober 2011

[Shofie] Beli Gerobak


"Mama, Bu Anjar punya buku ini, lho!" kata Shofie sambil menunjuk buku "Asmaul Husna".
"Iya. Mama kan, ngasih ke sekolah."
"Oh, kalau ibunya Nishfa dikasih, nggak? Ibunya Ammah, ibunya...." (Ngabsen temen-temennya)
"Errr... Mama jualan aja kali, ya."
"Iya! Iya!" Semangat. "Nanti beli gerobak dulu, ya!"

Emangnya tukang sayur!

Btw, Mama mengabaikan ladang amal memberi buku ke teman-temannya Shofie, dan memilih untuk jualan ajah hihi...Amal sih amal, tapi...tapi...

Sabtu, 01 Oktober 2011

(Terbit) Dongeng Oriental, Kisah Kebaikan Hati dari jepang, Cina, dan Korea


Zaman dahulu kala, eh, tiga atau empat tahun yang lalu, di sebuah milis, terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang hak cipta. Bagaimana hukumnya menulis cerita rakyat? Ada yang bilang itu salah dan melanggar hak cipta dengan berbagai alasannya.
Saya dan teh Tethy, memilih yang mudah dan menguntungkan saja. Ups! Nggak, tentu saja setelah riset juga. Intinya, boleh-boleh saja cerita ulang cerita rakyat.

Akhirnya, kita pun sepakat membuat cerita rakyat Jepang.
Pertama, survey penerbit! Kira-kira mana yang cocok untuk dikirimi?
Kami menemukan sebuah penerbit yang banyak menerbitkan cerita rakyat Indonesia, dengan bentuk pictorial book, satu judul satu buku, masing-masing 24 halaman. Itulah yang kemudian kami kerjakan.

Kami termasuk agak pemilih dalam menulis ini, juga berusaha agar cerita 'menganak banget'. Ya, cerita rakyat memang sarat dengan kekerasan, temanya pun banyak yang bukan untuk anak-anak. Akhirnya, terkumpullah 20 cerita rakyat. Semua saya print dan kirim ke penerbit. Lumayan ngemodal juga, biasanya saya jarang kirim naskah dalam bentuk print out. Tapi, untuk naskah ini, saya pede banget bakalan diterbitin ma penerbit ini. Mikirnya, 'ah, pasti balik modal-lah' xixixix...

Eh, nunggu sebulan, dua bulan, sampai hampir setahun pun tiada kabar.
Pertama, menanyakan dulu. Tanya lewat email yang tercantum di blog penerbit. Tiada jawaban. Beberapa bulan kemudian, ya tarik aja...lewat email itu juga hihih..
(Saya lupa,apakah waktu itu teh Tethy menanyakan via telpon, yak? kayaknya iya, ya...)

Naskah pun dalam status 'bebas'.
Begitu ada sebuah lowongan dari penerbit lain, cepet-cepet deh naskah itu dimasukin.
Belum berjodoh lagi!
Kali ini ada email penolakan (betapa sebuah penolakan pun sangat berharga ya, dibandingkan tiada kabar sama sekali).
Setelah itu, entah berapa lagi penerbit yang kami tawari.

Yah, begitulah nasib cerita rakyat Jepang ini. Bukan naskah instant. Hampir tiga tiga tahun prosesnya. sampai akhirnya berjodoh di Indria Pustaka dengan berbagai revisi. Sebelumnya hanya cerita rakyat Jepang, ditambah Korea dan China. Semula pictorial book, menjadi cerita pendek biasa :)

Begitu ceritanya...
Oke, deh. Minta doanya aja, moga manfaat dan laris manisss, royalti sampai ke penulisss...:d

Judul : Dongeng Oriental. Kisah Kebaikan Hati dari Negeri Jepang, Cina, dan Korea.
Penulis: Tethy Ezokanzo dan Aan Wulandari
Penerbit: Indria Pustaka, grup Puspa Swara
Penyunting: Tribuana Tunggal Sukma
Perancang Sampul: Zariyal
Penata letak: Puthut Tri Sudarmanto
Ilustrasi isi dan sampul: Mono
iv + 142 halaman ; 23 cm
Harga: Rp58.900,00

Kamis, 18 Agustus 2011

THR Bude Sayur


"Bu, sini..." panggil bude sayur, begitu saya sering menyebut perempuan penjual sayur keliling.

Saya heran. Jual beli dengannya sudah selesai. Ada perlu apalagi?
Olala...ternyata dia memberikan sebuah bungkusan. Ingatlah saya akan tradisi tukang sayur di sini. Memberi THR kepada pelanggannya.

Ini adalah kali pertama, saya diberi THR oleh bude sayur. Walaupun sebenarnya saya sudah mengalami tiga lebaran di sini. Lebaran pertama, saya belum tahu tradisi ini. Maklum, waktu itu, saya baru beberapa bulan tinggal di rumah baru. Lebaran kedua, saya tidak menerima, namun tetangga depan rumah mendapatkan THR darinya. Tak ada prasangka. Saya tahu diri. Tak setiap hari, saya belanja pada bude sayur. Kadang, saya meluangkan waktu ke pasar sendiri. Jadi, belanjanya hanya sedikit, kalau ada yang kurang-kurang saja. Berbeda dengan tetangga saya. Dia selalu belanja. Bahkan, tiap hari pesan sesuai dengan menu yang akan dimasaknya. Semuanya lengkap, terdiri dari sayur, lauk, serta bumbunya. Oleh karena itu, saya heran. Kenapa saya mendapatkanny? Padahal, saya masih tetap tak setiap hari belanja padanya. Bahkan, beberapa waktu ini, saya sering belanja di tukang sayur, yang mangkal di dekat sekolah anak saya. Sehabis mengantar, saya sekalian beli di sana.

Saya terkaget lagi begitu melihat isinya. Daster panjang merk terkenal dari kota batik. Bukankah harganya cukup lumayan? Berapa sih keuntungan yang diambil tukang sayur? Mungkin hanya ratusan sampai seribu tiap satu ikat sayur. Pun masih menanggung resiko bila jualannya tak habis hari itu juga. Tapi, dengan keuntungan minimal itu, mereka memikirkan untuk 'balas jasa' kepada para pembelinya, dengan memberikan hadiah lebaran.

Iseng, saya bertanya kepada seorang tetangga yang sering bantu-bantu di rumah.
"Bude sayur belanja di mana untuk THR ini, ya?"
Saya berharap, jawabannya adalah belanja ke sebuah pasar grosir, sehingga harganya menjadi lebih murah.
"Oh, ambil dia beli dari bu itu, Bu."
Rupanya, tetangga saya tahu, bahwa bude sayur membeli barang-barangnya dari tetangga lain yang menjual aneka barang kebutuhan. Dan, bisa dicicil.
Saya jadi berpikir, apakah barang-barang hadiah ini pun dibelinya dengan cara kredit? Rasa kasihan muncul. Dan itu membuat saya terdiam.
"Ya, nggak papa to, Bu. Kan dia juga udah bathi selama setahun." Seolah bisa membaca pikiran saya, tetangga saya menjelaskan.
"Iya, sih.."
Setelah itu, Bude cerita, bahwa semua pelanggan diberi THR dengan aneka barang.. Ada panci, penggorengan, kain, atau baju. Wow! Barang dengan harga lumayan semua.

Sebenarnya, tradisi tukang sayur memberi THR bukanlah pengalaman pertama. Waktu di rumah lama, tukang sayur di sana juga membagi hadiah. Namun, tidaklah semahal sekarang. Biasanya 'hanya' gula pasir setengah kilo, atau tepung terigu, saja. Tentu saja, nilai THR bukanlah dilihat dari harganya, tapi dari keikhlasan. Namun, membayangkan daster, juga panci dan barang lainnya, mengisi kereta sayur yang didorongnya setiap hari, membuat saya terharu melihat keseriusan bude sayur dalam membalas jasa para pelanggannya. Hanya sebuah doa yang akhirnya terucap, "Semoga kebaikan hatinya ini membuat usahanya berkah. Amin."

****
Tulisan ini dikutkan dalam lomba "THE UNTHINKABLE THINGS AROUND US"
Saya tertarik mengikutinya, karena tema seperti ini sering berputar-putar dalam otak saya. Bahkan tema seperti yang dicontohkan dalam MP mba Darnia, pernah saya tuliskan dalam bentuk cerpen anak, dan dimuat di Mombi SD.

Sesungguhnya, orang-orang yang sering 'tidak dianggap' itu sangat besar jasanya pada kita. Seharusnya kita berempati dan menghargai mereka.

Selasa, 16 Agustus 2011

Meninggal, Alhamdulillah??

Ada berita orang meninggal, disiarkan melalui pengeras suara masjid.
Syafiq : Alhamdulillah...
Saya : Mas...?? (Mendelik ke Syafiq yang artinya, 'yang bener aja?')
Syafiq: Meninggalnya bagus, Ma. Pas nuzulul quran bareng hari kemerdekaan.

****
Pikiran anak sulit ditebak :)

Minggu, 14 Agustus 2011

Naskah Pemanasan :)

Alhamdulillah, ada naskah dimuat di Mombi :)
Dikabari adik, yang udah duluan beli Mombi. Setelah itu, saya cari2 di lapak, bahkan sampai ke togamas, kok Mombi ini belum ada. Weih... Alhamdulillah, pas belanja, nemu deh majalahnya (tinggal satu-satunya). Shofie langsung seneng karena ada bonus gasingnya :)

Naskah ini adalah satu naskah pemanasan yang saya buat beberapa bulan lalu. Naskah pemanasan? Ya, salah satu tips ala saya bila lama tak menulis, sehingga ketika mau mulai lagi rasanya aras-arasen adalah melakukan pemanasan. Dan inilah salah satu kisahnya :d

Beberapa waktu lalu, selama kurang lebih dua bulan, waktu, tenaga, dan pikiran benar-benar terkuras. Pulang pergi Semarang- Magelang- Yogya berkali-kali, karena Rama sakit. Sampai Allah berkehendak menghilangkan rasa sakit beliau untuk selamanya.  

Setelah itu, walaupun aktifitas sudah berjalan normal di rumah, tapi tetap belum bisa langsung mulai nulis seperti sedia kala. Untuk membangkitkan atau membiasakan diri kembali adalah menulis cerita pendek (cernak pendek sekali) atau menuliskan kisah keseharian yang ringan-ringan saja.

Beberapa hari (hampir seminggu lebih) saya hanya menulis seperti itu. Sekedar ngisi blog, corat coret, balas email (bukan balas asal, tapi mengutarakan pendapat gitu deh), dll. Selain itu, juga tetep berusaha 'nembak' media. Nah, salah satu media 'sasaran' saya adalah Mombi. Cernak di sana tak perlu panjang-panjang. Cerita berima 100 kata juga bisa, deh. Dalam kondisi seperti ini, sehari dapat satu cernak juga sudah lumayan. Toh bukan kuantitas yang diperlukan di sini, tapi melemaskan jari dan mencairkan otak.  (Ehya, kadang beberapa naskah pemanasan ini kualitasnya kurang sih, hehe... Makanya ga pernah dimuat. Suka tersadar kalau jelek, saat baca ulang lagi )

Saat itu, saya nulis beberapa cernak, dan semuanya saya kirim ke Mombi. Sampai malu sama Pak Firdaus, hampir tiap hari kirim cerita hihihi...  "Ketika Aku Sakit", adalah salah satunya. Dan inilah cernak yang pertama saya buat. Lama di rumah sakit membuat ide ini muncul.

Cerita ini tidak 'murni' cernak fiksi, namun banyak pengetahuan yang ingin saya sampaikan. Misalnya istilah opname, infus, suster, dan lainnya, sesuai misi Mombi sebagai majalah pengetahuan. (Hemm... walaupun begitu semoga tidak tergolong cerita yang 'pinjam mulut orang dewasa' hehe...)

Alhamdulillah, nyanthol di Mombi edisi khusus Lebaran. Eh, majalahnya bagus, lho. Bonusnya banyak. Ada gasing, kartu lebaran yang dibuat sendiri (Shofie udah langsung bikin), tas dari kertas. Lembar aktifitas di dalamnya juga banyak. Mewarnai, labirin (Shofie paling suka), matematika juga. Yuk ah, dibeli..dibeli..hihihi..

Psstt...
Ada cerita lagi nih.
Ketika bersama Shofie buka-buka Mombi, dan sampai di cerita 'Ketika Aku Sakit', saya bilang padanya, "Dik, tulisan Mama, nih. A-a-en, Aan, namanya Mama, kan?"
"Yang bener?" katanya sambil membelalak. (Lagi demen banget pake kata-kata itu. Entah dapat darimana..)
"Iya,,,"
"Emangnya Mama nulis? Mama kan jualan buku?"
Gubrak!

Beberapa saat kemudian, dia ngambek, "Kok nggak ada nama Shofie?"
"Ya, udah tulis aja sendiri," Mama ngasal jawab.
Eh, untung jawaban ngasal itu manjur untuk mendiamkan kerewelannya. Langsung dia tulis namanya di bawah nama Mama. Kelihatan kan di scan-an itu? Hehe...




Jumat, 08 Juli 2011

KamusRima

http://kamusrima.com/
Sangat..sangat bermanfaat, bagi penulis yang ingin menulis cerita berima :)
Makasih buat Rini yang sudah 'menemukan' link ini.